Aneksasi Akhiri Sikap Pura-pura Israel Terkait Perdamaian

    Fajar Nugraha - 20 Mei 2020 17:08 WIB
    Aneksasi Akhiri Sikap Pura-pura Israel Terkait Perdamaian
    Palestina tidak akan terima proposal damai Timur Tengah dari Amerika Serikat. Foto: AFP
    Kairo: Israel berencana untuk melalukan aneksasi atau pencaplokan wilayah Palestina di Tepi Barat dan Lembah Yordan. Sikap ini membuktikan perilaku Israel sesungguhnya terkait upaya damai Timur Tengah.

    Baca: Palestina Berencana Akhiri Semua Kesepakatan dengan Israel dan AS.

    Kepala Program Palestina di Middle East Institute Khaled Elgindy  mengatakan, langkah aneksasi mengakhiri kepura-puraan Israel tentang proses perdamaian.

    “Keinginan (aneksasi) itu menghilangkan kepura-puraan bahwa pendudukan itu bersifat sementara dan bahwa proses perdamaian bagaimanapun juga akan menghasilkan negara Palestina," kata Elgindy seperti dikutip The National, Rabu, 20 Mei 2020.

    “Dengan aneksasi muncul pelembagaan realitas yang sangat tidak setara di tanah, apartheid. Itu meresmikan apartheid,” tegas Elgindy mengingatkan rezim Apartheid di Afrika Selatan sebelum Nelson Mandela dibebaskan.

    Menurut Elgindy penggabungan dapat berarti penyitaan tanah Palestina di wilayah-wilayah yang diinginkannya. Meskipun keputusan Presiden Palestina Mahmoud Abbas untuk membebaskan Otoritas Palestina (PA) dari perjanjian dengan Israel, Elgindy tidak melihat jalan yang jelas ke depan untuk PA.

    "PA telah lama bergantung pada kerangka kerja Oslo untuk kelangsungan hidup dan legitimasinya sendiri. Sama sekali tidak jelas apa artinya pembatalan dalam praktiknya,” tutur Elgindy.

    “Format untuk membatalkan koordinasi keamanan PA-Israel tidak disebutkan dalam pengumuman. Di luar deklarasi dan kecaman yang kuat, kepemimpinan Abbas tampaknya tidak memiliki strategi. Mereka tidak pernah benar-benar memiliki Rencana B, dan saya tidak yakin mereka bahkan memiliki Rencana A,” tegasnya.

    Mimpi buruk


    Bagi negara-negara Arab seperti Yordania, aneksasi berarti mimpi buruk. Raja Abdullah II memperingatkan kerusakan pada hubungan dengan Israel jika ini terjadi.

    "Jika Israel benar-benar mencaplok Tepi Barat pada Juli, itu akan menyebabkan konflik besar-besaran dengan Kerajaan Hashemite di Yordania," kata Raja Abdullah kepada Der Spiegel, Jumat.

    Baca: Indonesia Konsisten Tolak Aneksasi Israel di Tepi Barat.

    Elgindy mengatakan: "Ini merupakan ancaman eksistensial bagi Yordania, yang memiliki populasi mayoritas Palestina."

    “Rencana itu akan membangkitkan kembali ide yang dijajakan oleh hak Israel bahwa Yordania adalah Palestina, bahwa solusinya ada di Yordania,” menurutnya.

    Untuk saat ini, aneksasi bersyarat terstruktur oleh pemerintah Israel adalah sesuatu yang tampaknya bersedia diterima oleh pemerintahan Trump, meskipun ada ancaman dari Palestina. Dan ini adalah peluang yang tidak ingin dilewatkan oleh pemerintahan Benjamin Netanyahu yang baru terbentuk.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id