Komunitas Internasional Terus Desak Prioritas Keselamatan Rakyat di Tigray

    Marcheilla Ariesta - 25 November 2020 18:56 WIB
    Komunitas Internasional Terus Desak Prioritas Keselamatan Rakyat di Tigray
    Konflik di Tigray. Foto: AFP.
    Tigray: Tekanan internasional untuk menghentikan pertikaian di Tigray, Ethiopia terus meningkat. Komunitas internasional mendesak Ethiopia untuk melindungi warga sipil di Tigray.

    Pasukan yang setia kepada partai berkuasa Tigray telah berperang melawan tentara Ethiopia di wilayah utara itu selama hampir tiga pekan. Hal ini memicu eksodus pengungsi, kekejaman sipil, ketakutan akan ketidakstabilan yang lebih luas di sana.

    Perdana Menteri Abiy Ahmed, pemenang Hadiah Nobel Perdamaian tahun lalu, memberi waktu kepada Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF) 72 jam untuk menyerah sejak Minggu lalu. Ultimatum ini ditolak oleh pemimpin wilayah di sana yang mengatakan rakyatnya 'siap untuk mati' demi tanah air mereka.

    Saat tenggat waktu semakin dekat, Dewan Keamanan PBB mengadakan pertemuan pertamanya tentang krisis tersebut, meskipun ada ketidaksepakatan antara anggota Eropa dan Afrika mengenai apakah diskusi tertutup harus dilakukan.

    Tentara Ethiopia mengatakan tank berada dalam jarak 60 kilometer (37 mil) dari ibu kota regional Mekele, di mana mereka menjanjikan serangan "tanpa ampun" terhadap pasukan TPLF.

    "Retorika yang sangat agresif di kedua sisi mengenai perjuangan untuk Mekele sangat provokatif dan berisiko menempatkan warga sipil yang sudah rentan dan ketakutan dalam bahaya besar," kata kepala hak asasi manusia PBB Michelle Bachelet.

    Amnesty International mendesak Ethiopia agar tidak menggunakan artileri dan pengeboman udara di Mekele, meminta kedua belah pihak untuk mempertimbangkan setengah juta penduduk kota dan lebih banyak lagi orang yang mencari perlindungan di sana, dari pertempuran di tempat lain.

    "Menyerang warga sipil dan objek sipil dengan sengaja dilarang berdasarkan hukum humaniter internasional, dan merupakan kejahatan perang," kata Deprose Muchena, kepala kantor Amnesty International Afrika timur dan selatan, dikutip dari AFP, Rabu, 25 November 2020.

    Pemerintah mengatakan Selasa bahwa sejumlah besar milisi Tigray dan pasukan khusus telah menyerah setelah ultimatum 72 jam Abiy.

    TPLF mengatakan pada Senin lalu, bahwa mereka telah mengarahkan satu batalion militer dan mengklaim bertanggung jawab atas serangan roket di Bahir Dar - ibu kota wilayah Amhara di selatan Tigray - tempat pasukan lokal bertempur bersama pasukan Ethiopia.

    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id