Ethiopia Bombardir Tigray usai Tolak Seruan Mediasi

    Willy Haryono - 17 November 2020 07:02 WIB
    Ethiopia Bombardir Tigray usai Tolak Seruan Mediasi
    Ratusan warga Ethiopia dari Tigray mengungsi ke Sudan. (Ebrahim Hamid/AFP)
    Addis Ababa: Pesawat jet tempur Ethiopia membombardir ibu kota negara bagian Tigray usai pemerintahan federal menolak seruan mediasi dari komunitas internasional. Konflik di wilayah tersebut berlangsung antara pasukan pemerintah dan loyalis partai berkuasa Tigray.

    Ann Encontre, perwakilan agensi pengungsian Perserikatan Bangsa-Bangsa di Ethiopia, mengatakan bahwa para koleganya di kota Mekelle mengaku melihat "sebuah serangan udara" yang berlokasi tak jauh dari posisi mereka.

    "Kami tidak tahu siapa yang menjadi target dalam serangan itu," kata Encontre, dikutip dari laman Al Jazeera pada Senin, 16 November 2020.

    "Komunikasi dengan rekan-rekan baru dapat dilakukan saat kami mendapat akses internet. Kami tahu semua orang sedang ketakutan saat ini, dan warga sipil juga sudah mulai mengungsi," sambungnya.

    Banyak dari warga Tigray yang mengungsi ke negara tetangga, Sudan. Menurut keterangan empat sumber diplomatik dan militer, Angkatan Udara Ethiopia membombardir area di dalam dan sekitar Mekelle.

    Sejauh ini belum ada informasi mengenai korban jiwa maupun kerusakan, dan Pemerintah Ethiopia juga belum bersedia berkomentar.

    Pemimpin Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF), Debretsion Gebremichael, mengatakan bahwa setidaknya dua warga sipil tewas dan beberapa lainnya terluka dalam serangan pemerintah. Ia juga mengatakan bahwa kota Alamata di Tigray bagian selatan terkena serangan pesawat tanpa awak (drone).

    Gugus tugas Ethiopia sebelumnya mengatakan bahwa pasukan federal telah berhasil "membebaskan" Alamata, kota yang berjarak sekitar 120 kilometer dari Mekelle.

    Dengan terputusnya sebagian besar jaringan internet dan telepon, awak media masih kesulitan mendapat atau memverifikasi informasi dari wilayah Tigray.

    "Konflik saat ini masih sangat aktif," tutur Encontre.

    Gebremichael mendesak PBB dan Uni Afrika untuk mengecam serangan pasukan federal Ethiopia. Ia menuding pemerintahan Ethiopia di bawah Perdana Menteri Abiy Ahmed telah menggunakan senjata berteknologi tinggi dalam membombardir Tigray.

    "Abiy Ahmed melancarkan perang terhadap warga Tigray, dan bertanggung jawab atas banyak penderitaan di tengah masyarakat," sebut Gebremichael.

    Sebelumnya, Komisaris Hak Asasi Manusia PBB Michelle Bachellet menyerukan investigasi mengenai dugaan adanya ratusan warga sipil yang ditusuk dan ditebas hingga tewas di sebuah kota di Tigray.

    Ia khawatir konflik di Tigray dapat menjadi "kejahatan perang" jika dibiarkan berlarut-larut.

    Baca:  PBB: Krisis di Tigray Ethiopia Berpotensi Jadi 'Kejahatan Perang'

    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id