Pemerintah Afghanistan dan Taliban Lanjutkan Dialog di Qatar

    Willy Haryono - 15 Mei 2021 11:50 WIB
    Pemerintah Afghanistan dan Taliban Lanjutkan Dialog di Qatar
    Pemandangan salah satu sudut kota Doha, Qatar. (AFP)



    Doha: Perwakilan Pemerintah Afghanistan dan kelompok Taliban melanjutkan dialog damai di Doha, Qatar yang sempat terhenti atas satu dan lain hal. Kedua kubu mengonfirmasi kelanjutan dialog tersebut pada Jumat, 14 Mei.

    Dalam rangkaian tulisan via Twitter, kedua delegasi menyampaikan ucapan Idulfitri sekaligus mengabarkan mengenai perkembangan terbaru dialog di Doha.

     



    "Abdul Salam Rahimi dan Fatima Gailani merepresentasikan IRoA (Republik Islam Afghanistan), sementara kubu lain (Taliban) diwakili banyak anggota tim negosiasi mereka, termasuk Mullah Beradar Akhund," tulis delegasi Pemerintah Afghanistan, dikutip dari laman Anadolu Agency pada Sabtu, 15 Mei 2021.

    "Kedua kubu menekankan pentingnya mempercepat dialog damai usai Idulfitri," sambung dia.

    Juru bicara kantor Taliban di Qatar, Mohammed Naeem, juga mengonfirmasi bahwa "kedua kubu sepakat untuk melanjutkan negosiasi lebih lanjut usai Idulfitri."

    Sejak Amerika Serikat menetapkan tanggal penarikan penuh pasukan dari Afghanistan pada 11 September mendatang, negara tersebut dilanda lonjakan aksi kekerasan. Pemerintah Afghanistan menilai bahwa Taliban dan grup lain seharusnya sudah tidak punya lagi alasan untuk terus membunuh warga sipil dan menghancurkan infrastruktur negara begitu pasukan asing ditarik sepenuhnya.

    Baca:  Bom Meledak di Masjid Kabul, 12 Orang Tewas

    Mengenai prospek damai di Afghanistan, Presiden Ashraf Ghani menegaskan bahwa solusi satu-satunya adalah melalui pemilihan umum. Ia mengaku siap untuk tidak mencalonkan diri dan menyerahkan sepenuhnya pemimpin Afghanistan kepada rakyat.

    "Syarat (perdamaian) kami adalah pemilu," ungkap Ghani.

    Sementara itu dalam pesan Idulfitri, pemimpin Taliban Hibatullah Akhundzada memandang penarikan pasukan asing sebagai "sebuah langkah baik."

    "Tapi sayangnya, kubu Amerika sejauh ini telah berulang kali melanggar perjanjian (Doha) dan menyebabkan banyak kerugian kepada masyarakat sipil," ucap Akhundzada.

    Ia menegaskan jika nantinya AS kembali gagal memenuhi komitmennya, maka Negeri Paman Sam harus mengemban semua konsekuensi yang akan muncul.

    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id