Gaza di Ambang Gelombang Ketiga Covid-19 Usai Serangan Udara Israel

    Willy Haryono - 31 Mei 2021 18:06 WIB
    Gaza di Ambang Gelombang Ketiga Covid-19 Usai Serangan Udara Israel
    Sebuah ruangan di rumah sakit Gaza yang merawat pasien covid-19. Foto: AFP



    Gaza: Otoritas kesehatan di Gaza mengkhawatirkan gelombang ketiga pandemi covid-19 setelah tindakan darurat gagal dilakukan. Hal ini terjadi selama 11 hari pertempuran dengan Israel.

    “Warga Gaza benar-benar lupa tentang bahaya pandemi virus korona saat pertempuran berkecamuk,” kata para pejabat, seperti dikutip Arab News, Senin 31 Mei 2021.

     



    Gaza telah menyaksikan kehidupan kembali yang panik setelah bentrokan yang menewaskan lebih dari 250 orang, melukai 1.950, dan menghancurkan bangunan tempat tinggal dan fasilitas komersial utama.

    Kementerian Kesehatan yang dikelola Hamas di Gaza mengatakan bahwa mereka sedang berjuang untuk kembali bekerja menghadapi pandemi dengan energi yang sama seperti yang ditunjukkan sebelum konflik meletus.

    Juru Bicara Kementerian Kesehatan, Ashraf Al-Qidra mengatakan bahwa warga Gaza tidak dapat mengikuti protokol kesehatan dan tindakan pencegahan selama pertempuran.

    Dia mengatakan bahwa sebelum konflik baru-baru ini, kementerian kesehatan mengharapkan penurunan kurva epidemiologis. Tetapi sekarang ada kekhawatiran akan gelombang ketiga pandemi.

    Direktur Unit Pengendalian Keamanan dan Infeksi Kementerian Kesehatan Gaza, Rami Al-Abadla, sepakat bahwa "wabah virus korona gelombang ketiga sangat dikhawatirkan terjadi.”

    “Ribuan warga Palestina telah diusir dari rumah mereka dan berlindung di fasilitas yang penuh sesak,” kata Al-Abadla.

    Lebih dari 100.000 warga Palestina diyakini berlindung di rumah dan sekolah yang dikelola oleh Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA).

    Al-Abadla mengatakan bahwa menerapkan kembali langkah-langkah kesehatan yang ketat di Gaza akan sulit.

    “Orang tidak akan mengikuti tindakan apa pun saat ini setelah menghadapi masa-masa sulit dan hari-hari berbahaya,” ucapnya.

    Muhammad Abbas termasuk di antara mereka yang melarikan diri ke sekolah yang dikelola oleh UNRWA untuk menghindari kekerasan.

    Abbas mengatakan bahwa dia membawa istrinya yang sedang hamil, lima anak dan ayahnya yang cacat ke sebuah sekolah di kamp Jabaliya di Gaza utara setelah meninggalkan rumahnya di desa Umm Al-Nasr di Beit Lahia. Wilayah itu dilanda serangan udara Israel dalam skala besar.

    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id