Ribuan Warga Desak Pembubaran Pemerintah Sudan, Ada Apa?

    Willy Haryono - 17 Oktober 2021 14:07 WIB
    Ribuan Warga Desak Pembubaran Pemerintah Sudan, Ada Apa?
    Ratusan demonstran mendesak pembubaran pemerintah sudan di kota Khartoum, Sabtu, 16 Oktober 2021. (ASHRAF SHAZLY / AFP)



    Khartoum: Ribuan warga Sudan berunjuk rasa di Khartoum, Sabtu, untuk mendesak pembubaran pemerintah transisi. Mereka mengancam tidak akan berhenti berunjuk rasa hingga pemerintahan saatini dibubarkan.

    Aksi protes berlangsung di saat dunia politik Sudan diwarnai perpecahan antar faksi yang menghambat proses transisi dari kediktatoran mantan presiden Omar al-Bashir menuju kehidupan demokrasi.

     



    Baca:  Eks Presiden Sudan Divonis 2 Tahun Penjara

    Unjuk rasa pada Sabtu kemarin digelar oleh faksi pecahan dari Pasukan Kebebasan dan Perubahan (FCC), sebuah aliansi sipil yang mendorong aksi protes anti-Bashir.

    "Kami butuh sebuah pemerintahan militer. Pemerintah saat ini gagal mendatangkan keadilan dan kesetaraan," tutur Abboud Ahmed, seorang demonstran berusia 50 tahun, dilansir dari laman France 24, Minggu, 17 Oktober 2021.

    Pada Sabtu malam, demonstran mendirikan tenda-tenda di luar istana kepresidenan dalam mendesak pembubaran pemerintahan Perdana Menteri Abdalla Hamdok, seorang mantan ekonom di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

    Terdapat unjuk rasa tandingan dari kubu pendukung pemerintah, yang menuduh demonstrasi di Khartoum digerakkan oleh simpatisan Bashir.

    Krisis Transisi Terburuk

    Para demonstran yang menuntut pembubaran pemerintah terdengar meneriakkan yel-yel "satu militer, satu rakyat" dan "militer akan menghadirkan roti bagi kita semua."

    "Kami ikut serta dalam sebuah aksi protes damai, dan kami menginginkan pemerintahan militer," sebut seorang ibu rumah tangga bernama Enaam Mohamed.

    Abdelnaby Abdelelah, seorang demonstran dari negara bagian Kassal di timur, menuding pemerintah Sudan hanya peduli terhadap Khartoum dan mengabaikan wilayah lain. "Kami ingin sebuah pemerintah yang mengetahui hal-hak di wilayah timur negara," tuturnya.

    Di luar istana kepresidenan, para pedemo berteriak: "Kami akan terus berada di sini. Kami ingin pembubaran pemerintah."

    Jumat kemarin, Hamdok mengingatkan bahwa proses transisi di Sudan sedang menghadapi krisis "terburuk dan paling berbahaya."

    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id