‘Syarat’ Pemerintah AS Izinkan Israel Caplok Tepi Barat

    Fajar Nugraha - 20 Mei 2020 16:05 WIB
    ‘Syarat’ Pemerintah AS Izinkan Israel Caplok Tepi Barat
    PM Israel Benjamin Netanyahu menegaskan akan caplok Tepi Barat pada 1 Juli. Foto: AFP
    Washington: Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump condong menerima secara bersyarat atas rencana Israel untuk aneksasi wilayah Palestina di Tepi Barat dan Lembah Yordan. Rencana yang akan dilaksanakan pada Juli itu sepertinya akan tetap dilakukan meskipun diwarnai kecaman internasional.

    Seorang pejabat senior AS mengatakan kepada The National bahwa aneksasi apa pun harus sejalan dengan ‘Visi untuk Perdamaian’ yang digariskan oleh Presiden AS Donald Trump pada Januari sebelum itu akan diakui.

    Baca: Palestina Berencana Akhiri Semua Kesepakatan dengan Israel dan AS.

    Tetapi ada peringatan penting untuk penerimaan AS. Ini menegaskan bahwa pengakuan aneksasi akan terkait dengan tujuan pembentukan negara Palestina dalam empat tahun ke depan di bawah kerangka rencana yang telah ditolak oleh Palestina sebagai unilateral dan tidak dapat diterima.

    “Ini akan mencakup perjanjian oleh Israel untuk membekukan semua aktivitas pemukiman selama empat tahun ke depan di wilayah yang dicanangkan Visi untuk Negara Palestina di masa depan. Termasuk juga bernegosiasi dengan Palestina dengan itikad baik berdasarkan visi itu,” kata pejabat AS itu.

    Tetapi aneksasi yang direncanakan akan memberlakukan kedaulatan Israel di wilayah yang diinginkan Palestina untuk negara masa depan mereka, termasuk Lembah Yordan. Ini merupakan akuisisi tanah secara sepihak, yang ditolak berdasarkan hukum internasional.

    Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pencaplokan bisa dimulai secepat 1 Juli dan merupakan jati diri Israel.

    "Daerah-daerah ini adalah tempat bangsa Yahudi dilahirkan dan bangkit," kata Netanyah pada Minggu 17 Mei lalu.

    "Sudah waktunya untuk menerapkan hukum Israel pada mereka dan menulis bab besar lain dalam sejarah Zionisme,” imbunya.

    Baca: Indonesia Konsisten Tolak Aneksasi Israel di Tepi Barat.

    Langkah itu telah dikutuk oleh Eropa, dan para ahli sepakat itu akan mempertaruhkan masa depan dari penyelesaian perdamaian antara Palestina dan Israel.

    "Pencaplokan sepihak di Tepi Barat, seperti langkah sepihak yang dilakukan kedua belah pihak, adalah ide yang buruk. Itu merusak prospek yang sudah sulit dari solusi dua negara yang dinegosiasikan untuk mengakhiri konflik Israel-Palestina," ujar Daniel Shapiro, mantan Duta Besar AS ke Israel, seperti dikutip The National, Rabu, 20 Mei 2020.

    "Itu bisa membahayakan kerja sama keamanan Israel-Palestina, hubungan Israel dengan Yordania, status Israel sebagai negara Yahudi dan demokratis, dan prospek untuk meningkatkan hubungan Israel-Arab,” imbuh Shapiro

    Hubungan yang timpang


    Pada Selasa, Presiden Palestina Mahmoud Abbas menyatakan bahwa Otoritas Palestina (PLO) tidak lagi mematuhi perjanjian yang ditandatangani dengan AS dan Israel.

    Ini termasuk Perjanjian Oslo, Memorandum Sungai Wye dan perjanjian Hebron. Dia juga meminta mediator berbeda untuk menengahi konflik. Tetapi tidak jelas apakah Abbas, yang hubungannya telah terpecah belah dengan Trump sejak Desember 2018, dapat mengubah sikap AS.

    Dalam pemerintahan Trump, kesenjangan antara pejabat pro-aneksasi seperti Duta Besar AS untuk Israel David Friedman dengan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo yang lebih berhati-hati, terus mewarnai waktu dan proses. Tidak ada pejabat AS sejauh ini yang sepenuhnya menolak rencana tersebut.

    "Pemerintahan Trump tampaknya terbagi mengenai apakah akan mendorong Israel untuk bergegas menuju aneksasi sepihak dalam beberapa bulan mendatang," tegas Shapiro, yang juga menjadi dosen tamu di Institut Studi Keamanan Nasional di Tel Aviv.

    “Beberapa orang mungkin melihatnya secara politis bermanfaat bagi Presiden Trump dalam kampanye pemilihannya kembali. Orang lain mungkin menyadari risiko yang ditimbulkannya,” sebut Shapiro.

    Pencaplokan dan Biden


    Kepala Program Palestina di Middle East Institute Khaled Elgindy  mengatakan, kamp pro-aneksasi di Israel akan lebih memilih untuk bergerak ketika Trump masih berkuasa, daripada mempertaruhkannya jika Joe Biden memenangkan kepresidenan dan memimpin AS pada Januari 2021.

    Baca: Turki Tolak Rencana Pencaplokan Tepi Barat oleh Israel.

    Biden, menurut The Jewish Insider, memperingatkan mengenai aneksasi dalam pertemuan dengan Demokrat Yahudi minggu ini.

    "Israel perlu menghentikan ancaman aneksasi dan menghentikan aktivitas permukiman, karena itu akan memupus harapan untuk perdamaian," katanya.

    “Ini memberi Netanyahu lebih banyak urgensi untuk melakukannya sekarang. Israel ingin segera melakukannya, sebelum November, karena itulah jendela peluang di bawah Donald Trump," Elgindy menambahkan.

    "Melakukan aneksasi jika Biden menang (pada Pemilu November) dengan Trump sebagai target empuk adalah bentuk yang sangat buruk,” pungkas Elgindy.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id