Ilmuwan Afsel Sebut Kemunculan Varian Omicron Bukti Pentingnya Vaksinasi

    Willy Haryono - 28 November 2021 10:35 WIB
    Ilmuwan Afsel Sebut Kemunculan Varian Omicron Bukti Pentingnya Vaksinasi
    Ilustrasi Covid-19. (Medcom.id)



    Cape Town: Kemunculan varian Omicron merupakan sebuah peringatan mengenai bagaimana Covid-19 dapat terus berevolusi dan menyebar cepat, ucap seorang ilmuwan ternama asal Afrika Selatan. Menurut dia, evolusi dan penyebaran Covid-19 dapat menjadi semakin sulit dikendalikan tanpa laju vaksinasi yang memadai.

    "Jika vaksinasi belum dilakukan terhadap cukup banyak orang, maka hal seperti ini akan terus terjadi," kata Glenda Ray, Kepala Dewan Riset Medis Afrika Selatan, dilansir dari stuff.co.nz, Minggu, 28 November 2021.

     



    Pernyataan Ray disampaikan dua hari usai Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan varian B.1.1.529 yang pertama kali ditemukan di Afsel sebagai "variant of concern" dan melabelinya dengan nama "Omicron."

    Ray dan jajaran ilmuwan di seluruh dunia berusaha keras meneliiti varian Omicron, untuk menentukan apakah masih dapat terdeteksi melalui rangkaian tes dan apakah vaksin-vaksin yang tersedia saat ini masih dapat menghalaunya.

    Menurut Ray, salah satu penyebab munculnya varian Omicron di Afsel adalah rendahnya laju vaksinasi di benua Afrika. Sejauh ini, hanya 6 persen dari total 1,2 miliar penduduk benua Afrika yang sudah divaksinasi. Angkanya sangat timpang jika dibandingkan dengan Amerika Serikat yang sudah menyentuh angka 59 persen.

    Penyebab rendahnya laju vaksinasi di Afrika adalah karena banyak negara di benua tersebut kesulitan mendapatkan pasokan vaksin.

    Baca:  Varian Omicron Mengancam, Negara-Negara Dunia Berlakukan Larangan Perjalanan

    Selain masalah pasokan, rendahnya vaksinasi di Afrika juga dipicu keengganan warga di sejumlah negara. "Sebagian dari mereka merasa situasi saat ini tidak terlalu parah," tutur Gray.

    Untuk Afsel, menurut data Kementerian Kesehatan, lebih dari 35 persen total populasi sudah divaksinasi. Angkanya masih cukup jauh dari target Afsel di tahun 2021, yakni 67 persen.

    Sebelumnya pada bulan ini, pemerintah Afsel akan menunda pengiriman vaksin Pfizer and Johnson & Johnson karena jumlah orang yang divaksinasi masih relatif sedikit. Dikhawatirkan jika vaksin-vaksin itu dikirim, maka akan menjadi kedaluwarsa.

    "Masalah kami di Afrika Selatan adalah, kami perlu menangani masalah yang sudah ada di depan mata kami, yakni rendahnya laju vaksinasi. Kami tidak akan pernah bisa mengalahkan varian-varian (Covid-19) tanpa vaksinasi," sebut Gray.

    Mengenai Omicron, Gray dan para ilmuwan lainnya di Afsel belum dapat menentukan dari negara atau wilayah mana varian itu pertama kali muncul. Terdeteksi pertama kali di Afsel bukan berarti Omicron memang berasal dari sana.

    "Kasus-kasus (Omicron) ini bisa muncul di mana saja, terutama di area-area yang cakupan vaksinasinya rendah. Kita semua tahu Afrika tingkat vaksinasinya rendah, jadi bisa muncul di negara mana pun (di benua tersebut)," ungkap Gray dalam wawancara bersama The Washington Post.

    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id