WNI di Afrika Selatan Diminta Waspada di Tengah Kerusuhan

    Marcheilla Ariesta - 13 Juli 2021 19:40 WIB
    WNI di Afrika Selatan Diminta Waspada di Tengah Kerusuhan
    Tentara Afrika Selatan turun tangan atasi para perusuh. Foto: AFP.



    Pretoria: Situasi di Afrika Selatan sedang tidak stabil usai penahanan mantan presiden Jacob Zuma. Sebanyak 32 orang tewas dalam kerusuhan antara pasukan keamanan dan pendukung Zuma.

    Duta Besar RI untuk Afrika Selatan, Salman Al Farisi menuturkan, sejauh ini warga negara Indonesia di Afrika Selatan dalam kondisi aman.

     



    "KBRI telah mengeluarkan pengumuman dan imbauan, serta memberikan hotline yang sewaktu-waktu dapat dihubungi," tutur Salman saat dihubungi Medcom.id, Selasa, 13 Juli 2021.

    KBRI mengimbau para WNI di Afrika Selatan untuk meningkatkan kewaspadaan dan hati-hati terhadap situasi keamanan di lingkungan masing-masing. Selain itu, WNI diminta untuk selalu memantau perkembangan situasi melalui portal berita, media sosial dan komunikasi dengan komunitas setempat.

    "WNI diharapkan untuk tetap berdiam di rumah. Apabila terpaksa sekali perlu ke luar rumah, agar menghindari lokasi-lokasi rawan yang dapat menjadi pusat protoes dan kerusuhan," kata KBRI dalam surat imbauan keamanan yang diterima Medcom.id.

    Baca juga: Presiden Afsel Kutuk Kerusuhan Politik yang Tewaskan 32 Orang

    KBRI juga menyampaikan nomor hotline yang dapat dihubungi WNI di nomor +27790969958 (KBRI Pretoria) dan +27727116760 (KJRI Cape Town).

    Salman menuturkan Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa telah memberikan otorisasi untuk menurunkan tentara membantu kepolisian dalam mengatasi situasi.

    "Peristiwa ini akan menyulitkan upaya pemerintah Afrika Selatan dalam menanggulangi pandemi covid-19, terutama dengan merebaknya varian Delta pada gelombang ketiga saat ini," imbuhnya.

    Menurutnya, saat ini sudah ada penangkapan sekitar 720 orang terkait dengan kerusuhan.

    Zuma diadili atas tuduhan korupsi. Dia mengaku tidak bersalah bulan lalu dalam kasus yang melibatkan kesepakatan senjata senilai USD5 miliar dari tahun 1990-an.

    Pendukungnya berpendapat dia adalah korban perburuan 'penyihir' politik, yang diatur oleh sekutu Ramaphosa.

    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id