Pengamat: Dukungan Partai Arab di Koalisi Israel Bisa Untungkan Palestina

    Marcheilla Ariesta - 14 Juni 2021 17:05 WIB
    Pengamat: Dukungan Partai Arab di Koalisi Israel Bisa Untungkan Palestina
    Yair Lapid (kiri) dan Perdana Menteri Israel yang baru Naftali Bennett (kanan). Foto: AFP.



    Jakarta: Naftali Bennett berhasil melengserkan Benjamin Netanyahu sebagai perdana menteri Israel. Banyak pihak berharap nasib Palestina akan berubah setelah Bennett menjadi orang nomor satu di Negeri Zionis itu.

    Ketua Kajian Timur Tengah Universitas Indonesia Yon Machmudi menuturkan, isu kemerdekaan Palestina ada kemungkinan dibahas di bawah kepemimpinan Bennett. Ini dikarenakan partai yang mengusung kepentingan etnis Arab juga masuk dalam koalisi baru Israel.

     



    Namun Yon menilai isu kemerdekaan Palestina belum akan dibahas dalam waktu dekat di pemerintahan Bennett.

    "Memang dalam kesepakatan koalisi dengan Bennett, tidak disinggung isu berkait dengan Palestina. Nampaknya sampai dua tahun ke depan tidak ada kejelasan nasib Palestina," kata Yon kepada Medcom.id, Senin, 14 Juni 2021.

    Ia mengatakan tidak adanya komitmen dari PM baru berkaitan dengan Palestina menjadi penyebabnya. Namun, menurut dia, internal Israel akan mulai ada sedikit perubahan karena kelompok anti-pendudukan mulai bersuara.

    Baca: Naftali Bennett, Sosok Multidimensi yang Menjadi PM Baru Israel

    "Sedangkan anggota koalisi lainnya cenderung lebih moderat," imbuhnya.

    Menurut Yon, tokoh sentris Yair Lapid yang akan menjadi Menteri Luar Negeri Israel selanjutnya, akan berperan dalam dialog kemerdekaan Palestina. Tak hanya itu, Partai Arab juga dinilai akan bergerak.

    "Dengan munculnya Lapid dan dukungan Partai Arab, kemungkinan dialog kemerdekaan Palestina lebih memungkinkan. Dorongan untuk hidup berdampingan secara damai antara Israel dan Palestina menjadi semakin realistis," terang Yon.

    Sebelumnya, Bennett dikenal sebagai tokoh yang menentang kemerdekaan Palestina dan mendukung penuh permukiman Yahudi di Tepi Barat dan Yerusalem Timur. Ia sempat menjabat sebagai kepala dewan pemukim Tepi Barat, Yesha sebelum masuk ke Knesset pada 2013.

    Bennett resmi menjadi PM baru Israel pada Minggu, 13 Juni 2021. Ia menggeser 'kepemimpinan abadi' Netanyahu. Bennett memposisikan diri sebagai kingmaker atau sosok yang dapat mendorong munculnya pemimpin.

    Jabatan PM yang dipegang Bennett hanya berlaku hingga dua tahun ke depan, untuk nantinya digantikan oleh Lapid sesuai kesepakatan di awal.

    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id