Gaza, Terisolasi Tetapi Rentan Terhadap Virus Korona

    Fajar Nugraha - 20 Maret 2020 20:19 WIB
    Gaza, Terisolasi Tetapi Rentan Terhadap Virus Korona
    Petugas medis dan seorang anak di Gaza. Foto: AFP
    Gaza: Terlindung secara unik, namun sangat rentan terhadap korona. Ini mungkin dialami oleh Gaza di Palestina. Warga Gaza mungkin membandingkan virus korona dengan blokade Israel.

    Palestina sendiri mencatat 47 warganya yang terkonfirmasi terinfeksi virus korona. Namun dipastikan pasien tersebut tidak berada di wilayah Gaza.

    Dengan pergerakan masuk dan keluar dari wilayah yang sangat dibatasi sejak jauh sebelum pandemi muncul, Jalur Gaza mungkin adalah salah satu dari sedikit tempat di bumi yang berpeluang tetap bebas virus.

    Tetapi para ahli memperingatkan bahwa blokade yang melumpuhkan dan tingkat kemiskinan yang tinggi, bersama dengan populasi yang padat menciptakan kondisi yang sempurna bagi covid-19 menular dengan cepat. Satu hal yang membuahkan kekhawatiran besar adalah sistem kesehatan yang sangat lemah di Gaza.

    Salah seorang warga di Kota Gaza, Marian al-Khatib bertahun-tahun menumpuk produk pembersih dan barang-barang kaleng. Perempuan berusia 80 tahun itu mengatakan, dia hidup dan selamat dari enam perang, masih takut dengan ancaman covid-19.

    "Semua orang takut. Ini lebih penting daripada perang. Tidak ada yang seperti ini terjadi sejak hari saya dilahirkan," katanya kepada AFP, Jumat, 20 Maret 2020.

    "Jika korona tiba di Gaza, banyak orang akan mati. Tidak ada perawatan selain berdoa kepada Tuhan,” ujarnya.

    Gaza, Terisolasi Tetapi Rentan Terhadap Virus Korona
    Seorang anak di Gaza diukur suhu tubuh. Foto: AFP


    Israel telah memberlakukan blokade sejak 2007, ketika kelompok Hamas menguasai Gaza.  Mereka berpendapat bahwa langkah-langkah tersebut diperlukan untuk mengisolasi Hamas, yang dianggap sebagai organisasi teroris oleh sebagian besar negara Barat. Israel dan Hamas sendiri telah berperang tiga kali sejak 2008.

    Satu-satunya perbatasan Gaza lainnya, dengan Mesir di selatan, telah ditutup untuk sebagian besar dekade terakhir. Sebagian dibuka kembali dalam dua tahun terakhir, tetapi penyeberangan ke Mesir terbatas karena mencapai Kairo dan kota-kota lain membutuhkan perjalanan yang sulit melalui wilayah Sinai yang bergolak.

    Gaza tidak memiliki bandara sejak dibom oleh Israel pada awal 2000-an selama intifada Palestina, atau pemberontakan.

    Putra Khatib, Mustafa mengatakan, ia memahami "perasaan orang dalam isolasi atau karantina di seluruh dunia. Kami telah memiliki situasi seperti karantina sejak 2007".

    Sekolah sudah ditutup

    Di Gaza, warga Palestina secara dekat melacak pandemi melalui liputan media yang tak henti-hentinya - dan bersiap untuk yang terburuk. Mereka sadar, di Israel, pasien positif korona sudah mencapai 677 orang.

    Baca: Israel Sepakat Gunakan Teknologi Anti-Terorisme untuk Korona.

    Meskipun tidak ada kasus yang terdaftar di Gaza sejauh ini, sekolah ditutup dan lebih dari 2.700 orang berada di rumah melakukan karantina diri. Sementara sebagian besar telah kembali dari Mesir.

    Matthias Schmale, Direktur wilayah Gaza dari badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) mengatakan, dia sudah beroperasi menghalau kondisi wabah. Hal ini termasuk memberlakukan langkah-langkah yang menjauhkan interaksi sosial pemicu penyebaran covid-19.

    UNRWA mengelola sekolah untuk lebih dari 250.000 anak di pesisir Gaza. Tentunya dengan fasilitas kesehatan yang minim dan daya sebar virus korona, dia pantas khawatir.

    "Blokade mungkin dapat membantu menahan korona, tetapi jika wabah itu pecah saya akan menggunakan perbandingan dengan kapal pesiar dari Jepang," katanya, merujuk pada kasus Diamond Princess, di mana 700 dari 3.700 penumpang dan awak kapal terinfeksi virus.

    Sebagian besar penduduk Gaza tinggal di kamp-kamp pengungsi yang penuh sesak, dengan keluarga besar biasa. Kondisi tersebut patut menjadi perhatian

    "Adalah ilusi untuk berpikir Anda bisa mengelolanya dalam ruang tertutup seperti ini," kata Schmale.


    Bencana raksasa


    Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Palestina, Gerald Rockenschaub mengatakan, pembatasan dan ketegangan politik Israel telah menyebabkan fasilitas kesehatan Gaza memburuk selama dekade terakhir.

    Terkini, Gaza hanya memiliki 60 tempat tidur perawatan intensif (ICU) untuk dua juta orang dan tidak semua operasional karena kekurangan staf, katanya kepada AFP.

    "Sistem kesehatan Gaza telah menghadapi penurunan pengembangan selama beberapa tahun terakhir karena penutupan kronis (Israel)," katanya, menunjuk kekurangan listrik, obat-obatan dan sumber daya manusia.

    "Lebih dari 90 persen air minum pada dasarnya tidak layak untuk dikonsumsi manusia, dan ditambah lagi dengan kepadatan yang terlalu tinggi," tambahnya.

    Gaza, Terisolasi Tetapi Rentan Terhadap Virus Korona
    Para petugas medis yang bersiap lakukan pemeriksaan virus korona. Foto: AFP


    Israel mengatakan, pihaknya telah bekerja untuk memastikan pasokan pasokan medis ke Jalur Gaza, termasuk memfasilitasi pengiriman 500 alat uji virus corona yang didanai WHO. Sebagai tambahan, Israel menyalahkan Hamas karena kurangnya pembangunan di Gaza.

    Pihak Otoritas Hamas menyebutkan sedang mempersiapkan pembangunan 1.000 ruang isolasi di dekat perbatasan selatan dengan Mesir. Pembangunan ini akan diawasi oleh pemimpin Hamas di Gaza, Yahya Sinwar di saat buldoser membuka jalan untuk berdirinya ruang isolasi tersebut.

    Kondisi berbeda dialami oleh warga Palestina yang menderita kanker dan penyakit serius lainnya. Mereka diizinkan meninggalkan Gaza melalui Israel untuk berobat di negara Yahudi itu atau di Tepi Barat yang diduduki.

    Masih belum jelas apakah Israel, yang telah memberlakukan pembatasan ketat pada populasinya sendiri, akan memungkinkan pasien dengan virus korona yang sakit parah dipindahkan dari Gaza. Schmale memperingatkan wabah apa pun dapat dengan cepat melemahkan kemampuan kesehatan Gaza.

    "Semua yang saya dengar adalah jika wabah mencapai tingkat di mana Anda membutuhkan lebih dari 60 tempat tidur ICU untuk dirawat. Kondisi itu akan menjadi semakin sulit dan bisa berubah menjadi bencana dengan proporsi yang sangat besar,” pungkas Schmale.
     



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id