comscore

KBRI Nairobi Pulangkan 12 ABK WNI yang Telantar di Somalia

Marcheilla Ariesta - 28 Agustus 2021 17:31 WIB
KBRI Nairobi Pulangkan 12 ABK WNI yang Telantar di Somalia
Sebanyak 12 ABK WNI di Somalia bersiap untuk dipulangkan ke Indonesia. (KBRI Nairobi)
Hargeisa: KBRI Nairobi telah berhasil memulangkan 12 anak buah kapal warga negara Indonesia (ABK WNI) yang selama beberapa bulan tertahan di beberapa kapal ikan Liao Dong Yu di lepas pantai Somalia, kawasan Puntland.

Seluruh ABK WNI tersebut bekerja dalam situasi memprihatinkan dan di bawah standar kelayakan. Kontrak mereka telah selesai di awal 2021, namun perusahaan terus memaksa mereka bekerja di bawah tekanan.
Duta Besar Indonesia untuk Republik Kenya merangkap Somalia, Uganda dan Republik Demokratik Kongo, Dr. M. Hery Saripudin, memberikan perhatian penuh dan meminta adanya perlindungan maksimal serta pemberian hak-hak para ABK WNI.

"Pastikan seluruh ABK terlindungi. Negara harus hadir dalam melindungi WNI di mana pun mereka berada," ujar Dubes Hery, dalam keterangan tertulis yang diterima Medcom.id, Sabtu, 28 Agustus 2021.

Selama beberapa bulan, para ABK WNI tertahan di kapal ikan Liao Dong Yu 535, 577, 571, 572 dan 575 karena adanya selisih pendapat antara mereka dan pihak perusahaan mempekerjakan.

Para ABK WNI mengaku bahwa kontrak mereka dengan pihak kapal sudah selesai pada 2021. sementara perusahaan mengklaim mereka memegang kontrak dari para agen pengirim para ABK yang menyatakan bahwa mereka masih terikat kontrak.

Kondisi tersebut dipersulit fakta bahwa beberapa pemilik agen pengerah para ABK tersebut ditahan di penjara Indonesia karena berbagai kasus sehingga tidak bisa diminta pertanggungjawaban.

Para ABK WNI ingin dipulangkan ke Indonesia bukan hanya karena kontrak yang sudah selesai, namun juga karena suasana kerja yang tidak kondusif dengan peralatan kerja yang kurang memadai.

Baca:  KBRI Dakar Pulangkan 7 ABK WNI yang Mengalami Musibah di Senegal

Di Tengah Tekanan, ABK Lompat dari Kapal

Di tengah tekanan yang semakin tinggi dan suasana kerja yang sangat tidak kondusif, empat ABK WNI nekat kabur dari kapal dan berenang ke pantai dengan peralatan seadanya pada 15 Agustus. Brando Brayend Tewuh, salah satu ABK yang kabur dari kapal, menceritakan kepada Pelaksana Fungsi Prlindungan WNI KBRI Nairobi, Fauzi Bustami, beberapa hari kemudian bahwa malam itu sekitar pukul 20.30, dirinya bersama tiga orang temannya nekat terjun dari kapal Liao Dong Yu 535 karena sudah tidak tahan dengan kondisi di kapal dan ingin pulang.

Namun demikian, setelah terombang ambing selama kurang lebih enam jam di laut, mereka belum bisa mencapai pantai karena ombak yang besar dari arah pantai. Mereka kelelahan serta kedinginan.

Sekitar pukul 04.30 pagi hari tanggal 16 Agustus, Brando dan dua orang rekannya berhasil diselamatkan Kapal Liao Dong Yu 535. Namun, nahas, satu orang rekannya tidak dapat ditemukan.

Proses pemulangan 12 ABK WNI dimulai pada Minggu, 22 Agustus, saat mereka dikirim ke pantai kota Xaafuun, Puntland dengan kapal kecil. Saat tiba di daratan, tiga ABK WNI, Irvandi Wabula, Riki Rikardo dan Valentino Vrangklen Lontaan, langsung dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.

Setelah itu, 12 ABK WNI diberangkatkan dari Xaafuun menuju kota Bosaso, kota terbesar di Puntland. Selama empat hari di Bosaso, seluruh ABK mendapatkan pemulihan kesehatan dan tes PCR. Setelah itu pada 27 Agustus, rombongan berangkat meninggalkan Somalia menuju Indonesia melalui Addis Ababa, Ethiopia. Seluruh ABK diperkirakan akan tiba di Tanah Air pada Sabtu ini.

Dubes Hery mengungkapkan bahwa keberhasilan pemulangan 12 ABK WNI yang terlantar di laut lepas Somalia dapat terwujud karena adanya kerja sama erat dari berbagai pihak, baik KBRI Nairobi, instansi di pusat, serta perwakilan RI terkait.

Ia secara khusus memberikan apresiasi tinggi kepada beberapa pihak di Somalia yang secara gigih membantu pemulangan para ABK  WNI, khususnya Ismael A. Siyad, Konsul Kehormatan RI di Somalia; Mohamed Omar, warga negara Somalia alumnus UIN Jakarta yang tinggal di Puntland; serta Daahir Ayanle, Senator Somalia asal Puntland. 

Menurut Dubes Hery, kasus terlantarnya 12 ABK WNI di lepas pantai Somalia semestinya menjadi pelajaran berharga bagi pihak-pihak terkait di Indonesia. Permasalahan tersebut terjadi karena kurangnya perlindungan terhadap hak-hak pekerja, kondisi kerja di kapal yang kurang kondusif, ketidakjelasan kontrak antara para ABK dan pemilik kapal, serta dugaan ketidakjujuran agensi/perusahaan pengerah tenaga kerja.

(WIL)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id