Jelang Aneksasi Israel, Palestina Layangkan Surat Negosiasi

    Willy Haryono - 30 Juni 2020 10:44 WIB
    Jelang Aneksasi Israel, Palestina Layangkan Surat Negosiasi
    Presiden Palestina Mahmoud Abbas (kiri) bersama PM Mohammad Shtayyeh. (Foto: AFP)
    Ramallah: Otoritas Palestina (PA) melayangkan sebuah surat yang ditujukan kepada Kuartet Timur Tengah mengenai kesiapan melakukan negosiasi dengan Israel mengenai rencana pencaplokan sebagian wilayah Tepi Barat. Surat dilayangkan dua hari menjelang rencana aneksasi oleh Israel pada 1 Juli mendatang.

    Kuartet Timur Tengah merujuk pada empat kekuatan besar, yakni Perserikatan Bangsa-Bangsa, Amerika Serikat, Rusia, dan Uni Eropa.

    Baca: PM Israel Bertekad Caplok Tepi Barat pada 1 Juli

    Menurut laporan Ynet News pada Senin malam, surat PA menyatakan bahwa Palestina "siap memperbarui dialog langsung (dengan Israel)" usai skema semacam itu berhenti pada 2014.

    Dikutip dari The Jerusalem Post, Selasa 30 Juni 2020, PA juga disebut-sebut menyatakan kesediaannya untuk membicarakan "pertukaran wilayah dalam skala minor." Pertukaran ini didasarkan pada kondisi garis perbatasan per tanggal 4 Juni 1967, atau menjelang berlangsungnya Perang Enam Hari.

    Surat terbaru dari PA ini dipandang sejumlah pihak sebagai respons terhadap Rencana Perdamaian Timur Tengah ala Presiden AS Donald Trump. Sebelumnya, Palestina menolak keras rencana tersebut, yang kerap digembor-gemborkan Trump sebagai "Perjanjian Abad Ini."

    Sebelumnya pada awal Juni, Perdana Menteri PA Mohammad Shtayyeh mengatakan bahwa pihaknya telah mempersiapkan sebuah dokumen untuk merespons rencana AS. Namun ini merupakan kali pertama PA mengekspresikan kesediaannya untuk bernegosiasi langsung dengan Israel terkait rencana AS tersebut.

    Masih dalam surat tersebut, PA menyebutkan bahwa tawaran negosiasi ini tidak akan lagi relevan jika Israel mulai mencaplok "bagian manapun dari wilayah Palestina."

    "Tidak ada satu pihak pun yang lebih tertarik mencapai perjanjian damai selain Palestina," ungkap salah satu kalimat dalam surat PA.

    Pencaplokan Tepi Barat dikhawatirkan dapat merusak Solusi Dua Negara (Two-State Solution) -- skema yang dinilai komunitas global sebagai solusi terbaik dalam konflik berkepanjangan Palestina-Israel.
     
    Palestina sejak lama berharap bahwa Tepi Barat, yang direbut Israel dari Yordania dalam perang Arab-Israel 1967, dapat menjadi bagian dari negara berdaulat dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.
     
    Selain negara-negara Arab, sejumlah anggota Uni Eropa juga mengecam rencana aneksasi Tepi Barat oleh Israel. UE pun mengancam akan menjatuhkan sanksi kepada Israel jika PM Netanyahu melanjutkan rencananya tersebut.



    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id