Zoha, Dokter Terakhir di Kota Aden Yaman

    Willy Haryono - 19 September 2020 13:05 WIB
    Zoha, Dokter Terakhir di Kota Aden Yaman
    Zoha, dokter terakhir di kota Aden, Yaman. (Foto: BBC)
    Aden: Abdulkareem berusaha keras mencari rumah sakit yang mau merawat sang ayah di kota Aden, Yaman. Ayah Abdulkareem kesulitan bernapas, salah satu gejala yang ditimbulkan infeksi virus korona (covid-19).

    Namun dari lima rumah sakit yang didatangi, tidak satu pun yang mau menerima ayah Abdulkareem. Banyak dokter telah meninggalkan Aden, yang otomatis menghentikan kegiatan operasional sejumlah rumah sakit di kota tersebut.

    Namun di saat semua meninggalkan Aden, satu dokter tetap bertahan. Ia adalah Zoha, dokter perempuan yang masih tetap bekerja dan bersedia menerima pasien covid-19, termasuk ayah Abdulkareem.

    "Dia (Abdulkareem) bilang, ayah saya sekarat, tolong rawat ayah saya. Saya bilang, kami di sini tidak memiliki cukup ranjang dan oksigen," kata Zoha, dalam wawancara bersama media BBC, belum lama ini.

    "Dokter, tolonglah kami, ayah saya akan mati, katanya. Tidak ada yang bisa saya lakukan selain membawanya masuk. Saya kemudian memasangkan saluran oksigen ke pasien," sambung dia.

    Selang 15 menit usai mendapat oksigen, ayah Abdulkareem mengembuskan napas terakhir. Kondisinya sudah tak tertolong meski sempat mendapat perawatan dari dokter Zoha.

    Sebelum dilanda pandemi covid-19, Yaman sudah dilanda krisis kemanusiaan akut yang diakibatkan perang antara pasukan pemerintah dan pasukan Houthi. Pandemi covid-19 datang di saat Yaman berada dalam titik terendah, suatu kondisi yang disebut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai krisis kemanusiaan terburuk di era modern.

    Berdasarkan data terbaru Johns Hopkins University pada Sabtu 19 September 2020, total kasus covid-19 di Yaman telah mencapai 2.024 dengan 585 kematian dan 1.221 pasien sembuh. Data sebenarnya diperkirakan lebih tinggi lagi karena minimnya kapasitas tes dan tim pemantau covid-19 di Yaman.

    Banyak dari pasien meninggal itu dimakamkan di Aden. Ghassan Ahmed, seorang penggali kubur di Aden, mengaku kewalahan menerima banyaknya jenazah yang harus dikubur sejak munculnya covid-19.

    Saat situasi normal, Ahmed biasanya mengubur sekitar 10 jenazah dalam sehari. "Sekarang dalam satu bulan saja, saya sudah mengubur 1.500 jenazah," ucapnya. "Ini lebih buruk dari perang," sambung Ahmed.

    Kondisi di Yaman, termasuk Aden, mulai membaik saat lembaga kesehatan Medecins Sans Frontieres (MSF) datang. Zoha mengaku bersyukur karena para pasiennya kini bisa mendapat kesempatan untuk tetap hidup berkat bantuan MSF.

    "Beberapa pasien covid-19 sudah sehat, dan yang terpenting masih hidup," tutur Zoha.

    Saat ini Yaman, dan juga sejumlah negara lainnya di dunia, sedang bersiap menghadapi kemungkinan terjadinya gelombang kedua covid-19. Abdulkareem mengaku khawatir atas kemungkinan tersebut.

    "Saya takut, semua juga takut, karena di negara ini kami tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Jika gelombang kedua terjadi, bagaimana dengan putra, putri, istri, dan saudara saya? Mereka mungkin akan meninggalkan saya," pungkas Abdulkareem.

    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id