Pesawat CN235-220 MPA Buatan PT DI Tiba di Senegal

    Marcheilla Ariesta - 01 April 2021 21:52 WIB
    Pesawat CN235-220 MPA Buatan PT DI Tiba di Senegal
    Pesawat CN-235 buatan PT DI tiba di Senegal. Foto: Dok. KBRI Senegal.



    Dakar: Indonesia melalui PT Dirgantara Indonesia (PTDI) mengirimkan pesawat terbang CN235-220 Maritime Patrol Aircraft (MPA) ke Dakar, Senegal, Selasa, 30 Maret 2021. Pengiriman pesawat ini menjadi bukti bahwa hubungan Indonesia dengan Senegal dan negara-negara di Afrika Barat semakin erat.

    Sebelum tiba di Dakar, pesawat CN235-220 MPA yang berangkat dari Bandung, Jawa Barat tersebut melalui rute yang melintasi 12 negara dan singgah di India, Qatar, Sudan, Chad, dan Niger. Waktu yang ditempuh mencapai 12 hari dan mengangkut 10 orang kru pesawat.






    Duta Besar RI untuk Senegal Dindin Wahyudin mengatakan bahwa di Afrika, khususnya Afrika Barat, Indonesia bersaing dengan Tiongkok.

    "Dari sisi bersaing dengan produk lain, terutama (produk) Tiongkok, dari sisi teknologi kita sudah mumpuni. Kelebihan yang kita berikan adalah capacity building bagi customer," kata Dindin, dalam wawancara secara virtual, Kamis, 1 April 2021.

    Ia menegaskan, Indonesia memberikan pelatihan kepada pilot dan teknisi. Hal ini yang membuat produk Indonesia lebih unggul dan memiliki daya saing.

    Penggunaan pesawat CN 235-220 MPA ini nantinya untuk patroli maritim bagi Angkatan Udara berpatroli di wilayah laut Senegal. Pesawat ini, kata dia, dilengkapi alat khusus dan sangat canggih.

    Dari situs setkab.go.id, pesawat produksi PT DI ini memiliki beberapa keunggulan, antara lain dapat lepas landas dengan jarak yang pendek dengan kondisi landasan yang belum beraspal dan berumput, mampu terbang selama delapan jam dengan sistem avionik glass cockpit, autopilot, dan adanya winglet di ujung sayap agar lebih stabil dan irit bahan bakar.

    Pesawat ini juga dilengkapi dengan Tactical Console (TACCO), 360-degree Search Radar yang dapat mendeteksi target yang kecil sampai 200 NM (Nautical Mile) dan Automatic Identification System (AIS), sistem pelacakan otomatis untuk mengidentifikasi kapal sehingga dapat diperoleh posisi objek yang mencurigakan.

    Kemudian terdapat juga Forward Looking Infra Red (FLIR) untuk mendeteksi dan mengklasifikasikan target, serta mampu merekam situasi di sekitar wilayah terbang untuk evaluasi misi, baik dalam kondisi siang maupun malam hari.

    Dubes Dindin menuturkan, kerja sama Indonesia dengan negara-negara Afrika Barat tidak hanya di bidang pertahanan saja. Beberapa perusahaan BUMN lainnya, seperti PT PAL dan PINDAD juga telah melakukan penguatan hubungan di wilayah Afrika Barat.

    Selain industri strategis, beberapa kerja sama yang juga diperkuat adalah kelapa sawit. "Kelapa sawit termasuk produk turunannya menjadi ekspor utama Indonesia ke Afrika Barat," sebut Dubes Dindin.

    "Selain itu, bahan-bahan untuk membuat detergen dan sabun colek juga memiliki pangsa pasar yang cukup tinggi. Begitu pula dengan produk kertas dan kapas," imbuhnya.

    Ia berharap ke depannya hubungan bilateral dan persahabatan kedua negara bisa semakin dalam dan kuat.

    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id