Indonesia-Jepang Diramal Semakin Mesra Setelah Kunjungan PM Suga, Ini Ciri-cirinya

    Fajar Nugraha - 21 Oktober 2020 16:57 WIB
    Indonesia-Jepang Diramal Semakin Mesra Setelah Kunjungan PM Suga, Ini Ciri-cirinya
    Presiden Joko Widodo dan Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga (Foto:BPMI Setpres)
    Jakarta: Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga memilih negara Asia Tenggara dalam lawatan resmi pertama sejak ditunjuk sebagai perdana menteri baru Jepang menggantikan Shinzo Abe. Muncul pertanyaan, mengapa Suga tidak mengunjungi Amerika Serikat (AS) dalam lawatan pertamanya?

    Penasihat khusus kabinet PM Suga untuk kebijakan luar negeri, Kuni Miyake, dalam tulisannya di Japan Times beberapa waktu lalu, menjelaskan alasannya. Menurutnya, ada beberapa hal yang mendorong Suga memilih Indonesia dan Vietnam sebagai lawatan luar negeri pertama.

    Sejak 1945, kunjungan ke Washington telah menjadi salah satu prioritas utama bagi setiap perdana menteri baru di Jepang. Namun, di tengah siklus pemilihan Amerika dan pandemi virus korona yang tidak pernah berakhir, pilihan terbaik untuk berkunjung Amerika Serikat tidak dalam waktu dekat ini.

    Hati-hati dengan tetangga

    Tokyo, akhir-akhir ini, juga telah mengambil sikap resmi bahwa Jepang akan selalu berupaya untuk mempromosikan visi Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka. Hal ini termasuk supremasi hukum, kebebasan navigasi dan penerbangan, serta penyelesaian sengketa secara damai dengan membangun hubungan yang stabil bersama tetangganya. Tetangga yang dimaksud adalah Tiongkok atau Korea selatan dan Korea Utara.

    Namun, untuk Korsel dan Tiongkok, Suga tampaknya tidak ingin mengambil risiko. Hal ini disebabkan juga karena hubungan diplomatik dengan Seoul maupun Beijing tidak selalu stabil.

    Vietnam dan Indonesia pun masuk ke dalam radar PM Suga. Untuk Vietnam, statusnya yang sebagai ketua ASEAN, dianggap penting memperkuat kerja sama maritim dan keamanan. Khususnya, Jepang pun ini menangkal pengaruh Tiongkok dalam ketegangan maritim seperti di Laut China Selatan.

    Dalam kondisi geopolitik berubah-ubah, Jepang harus menyeimbangkan hubungan ekonominya dengan Tiongkok, terutama pada masalah keamanan. Termasuk, dorongan Beijing untuk menegaskan klaim atas pulau-pulau Laut China Timur yang disengketakan.

    Kenapa Indonesia?

    Sementara dengan Indonesia, banyak kepentingan besar yang ingin dijaga oleh Jepang. Selain sebagai kekuatan besar di ASEAN serta bergabung dalam G20, Indonesia menjadi perhatian utama dalam kerja sama ekonomi.

    Terbukti, dalam pertemuan dengan Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Selasa 20 Oktober 2020, ada empat kesepakatan kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Jepang. 

    Pertama, soal penanganan pandemi virus korona (covid-19). Kedua, kerja sama terkait pembentukan travel corridor arrangement bagi bisnis esensial. Indonesia dan Jepang sepakat menugaskan Menteri Luar Negeri untuk menegosiasikan lebih detail dan menyelesaikan kesepakatan tersebut. 

    Kemudian ketiga, kerja sama relokasi dan perluasan investasi perusahaan-perusahaan Jepang ke Indonesia. Beberapa perusahaan ialah Denso, Sagami, Panasonic, Mitsubishi Chemical, dan Toyota. Tidak lupa Presiden pun meminta perhatian Jepang terkait kendala izin impor produk pertanian, kehutanan, dan perikanan dari Indonesia.

    Keempat, penguatan spirit kerja sama di tengah rivalitas global yang semakin menajam. Kerja sama Indonesia-Jepang perlu diutamakan dalam hubungan Indo-Pasifik.

    Jepang memandang penting Indonesia

    Kesepakatan ini menunjukkan pentingnya Indonesia untuk Jepang dan sebaliknya. Hal ini pun diakui oleh Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana. 

    “Jepang ingin menegaskan kepada Indonesia bahwa keberadaan Indonesia sangat penting di mata Jepang. Jepang tidak pernah meninggalkan dan tidak akan meninggalkan Indonesia yang sedang giat dalam melakukan pembangunan." 

    "Dalam konteks ini Indonesia tidak perlu bertumpu hanya pada satu negara yaitu Tiongkok dengan kekuatan ekonomi dan teknologinya,” sebut Hikmahanto melalui keterangan tertulis. 

    Selain itu, Indonesia juga dipandang sebagai mitra strategis Jepang di saat Negeri Sakura mengalami gangguan dari Tiongkok. Terutama, terkait dengan jalur pelayaran internasional. 

    Khusus untuk isu perairan, banyak negara besar khawatir bahwa kekuatan militer dan ekonomi Tiongkok bisa mendominasi Laut China Selatan. Khusus untuk klaim Sembilan Garis Putus, Jepang diperkirakan akan membantu Indonesia secara penuh.

    Presiden Jokowi pun pada saat pertemuan dengan PM Suga berharap tak ada lagi polemik di Laut China Selatan. Presiden menginginkan agar Laut China Selatan dapat terus menjadi laut yang damai dan stabil.

    Menanggapi itu, PM Suga mengatakan akan mendukung Indonesia. Sebagai gantinya, dia juga meminta bantuan Indonesia terkait kasus penculikan warga Jepang oleh Korea Utara.

    Kunjungan Suga ke Indonesia setelah dilantik, jelas memberikan kesan bahwa Indonesia adalah mitra penting bagi Jepang. Sekarang, terserah bagaimana dari pemerintahan Jokowi-Ma’ruf bisa mengkonversikan kemitraan itu demi keuntungan besar Indonesia.

    (WAH)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id