comscore

Kemesraan AS-Taiwan Picu Kegeraman Tiongkok

Harianty - 20 Juni 2022 12:01 WIB
Kemesraan AS-Taiwan Picu Kegeraman Tiongkok
Presiden Taiwan Tsai Ing Wen. Foto: AFP
Di kancah internasional, tentunya banyak pihak mengetahui antara Amerika Serikat (AS) mempunyai hubungan yang cukup "mesra" dengan Taiwan. AS merupakan pendukung  terpenting bagi pulau yang diklaim Tiongkok sebagai bagiannya, dan tentunya hal ini membuat Negeri Tirai Bambu geram.

AS merupakan pendukung dan pemasok senjata internasional terpenting Taiwan. Pejabat AS juga seringkali mengunjungi Taiwan atau melakukan kesepakatan dengan Pulau Formosa. Bagi Tiongkok, hal ini berarti mencederai prinsip "Satu Tiongkok" serta merusakan perdamaian dan stabilitas pulau itu.
Awal bulan ini, dikabarkan Pemerintah AS dan Taiwan  telah melaksanakan pembicaraan bilateral untuk memperkuat hubungan dagang antara keduanya.  Perwakilan AS juga mengatakan bahwa diskusi antara keduanya berjalan dengan baik.

Mengetahui hal tersebut, tentu pihak Tiongkok mendesak AS untuk tak lagi melakukan kesepakatan apapun dengan Taiwan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Zhao Lijian pada Kamis, 4 Juni 2022, menegaskan bahwa Tiongkok sangat menentang segala bentuk kontak resmi antara Taiwan dan negara-negara yang menjaga hubungan diplomatik dengan Tiongkok.

Seperti diketahui, Taiwan berkeras ingin memerdekakan diri, namun Tiongkok memandang Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya yang suatu saat dapat diambil kembali, dengan kekuasaan jika memang diperlukan. Oleh karena itu, Tiongkok menentang segala dukungan bagi Taiwan untuk merdeka.

Sementara itu, persaingan antara AS dan Tiongkok kian hari makin memanas, selalu ada banya hal yang memicu konfrontasi antara dua Negara Adidaya tersebut, baik masalah perdagangan atau politik. Jadi, sikap AS yang mendukung Taiwan tampaknya bukan sesuatu hal yang aneh.

Dalam beberapa bulan terakhir, Tiongkok telah berulang kali mengirim jet tempurnya memasuki zona pertahanan udara Taiwan (ADIZ), memicu protes dari Taiwan.  Militer Tiongkok menegaskan bahwa melakukan latihan di sekitar Taiwan sebagai ‘peringatan serius’ terhadap ‘kolusi’ dengan Amerika Serikat.

Atas peningkatan provokasi militer Tiongkok, Mei lalu, Presiden AS Joe Biden mengatakan, negaranya bersedia campur tangan secara militer jika Tiongkok menginvasi pulau tersebut. Biden mengatakan bahwa mereka sepakat untuk menghormati kebijakan satu Tiongkok, namun menurut Biden bukan berarti Tiongkok dapat seenaknya menyerang Taiwan.

Menanggapi ucapan Biden, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Wang Wenbin menganggap pernyataan Biden memprovokasi situasi keamanan di Asia Timur. Tiongkok membalas, bersumpah akan melawan jika isu Taiwan dibawa-bawa dalam urusan internasional. Menurut Tiongkok wilayah Taiwan adalah bagian tidak terpisahkan dari Tiongkok.

Menhan AS Lloyd Austin minggu lalu menuduh Tiongkok melakukan aktivitas militer yang "provokatif dan menggoyang stabilitas" di kawasan Indo Pasifik.  Ia juga menuding Beijing kerap mengintimidasi negara-negara tetangganya, dan bahkan "merampok" sumber daya kawasan.

Dukungan AS kepada Taiwan ini tentu membuat Tiongkok semakin geram, Menteri Pertahanan Tiongkok Wei Fenghe menegaskan, Tiongkok akan "berjuang hingga akhir" dalam menghentikan upaya deklarasi kemerdekaan Taiwan.

"Mereka yang menginginkan kemerdekaan Taiwan dalam upaya memecah belah Tiongkok sudah dipastikan tidak akan berakhir baik," ujar Wei pada Minggu, 12 Juni 2022.

Wei menegaskan bahwa siapa pun tidak bisa meremehkan "tekad serta kemampuan angkatan bersenjata Tiongkok dalam melindungi integritas wilayah."

Ucapan Wei tampaknya memicu kekhawatiran perang lain yang akan meletus jika Tiongkok bersikeras memperjuangkan Taiwan untuk menjadi bagiannya. Tiongkok sendiri juga memiliki kekuatan militer yang mumpuni. Taiwan juga telah meningkatkan pertahanan udara dan lautnya.

Presiden Taiwan Tsai Ing-wen pernah mengatakan bahwa Taiwan bertekad untuk membela diri dan yakin tekad ini akan "menggalang sesama demokrasi untuk tujuan kita." Ia pun berjanji untuk tidak tunduk pada tekanan.

Bila memang perang terjadi maka dampaknya diperkirakan akan jauh lebih parah dibandingkan perang Rusia-Ukraina yang saat ini berlangsung, karena akan terjadi gangguan pada rantai pasokan dan tatanan ekonomi internasional.

Banyak pihak sepakat bahwa Beijing menyadari invasi ke Taiwan akan terlalu mahal dan membawa malapetaka, tidak hanya bagi Tiongkok tapi juga dunia, tidak boleh ada pihak lagi yang menderita akibat perang.


(FJR)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id