comscore

Janji Tiongkok Atasi Perubahan Iklim

Harianty - 08 November 2021 07:41 WIB
Janji Tiongkok Atasi Perubahan Iklim
Asap mengepul dari pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar batu bara di Datong, Shanxi, Tiongkok, 4 November 2021. (Noel Celis / AFP)
Beijing: Tiongkok terus menggaungkan komitmennya dalam perang melawan perubahan iklim. Di tatanan global, Tiongkok adalah salah satu negara penyumbang karbon terbesar di dunia.

Pemerintah Tiongkok perlu melakukan langkah konkret dalam mengatasi perubahan iklim, karena konsumsi batu bara di Negeri Tirai Bambu -- yang merupakan terbesar di dunia -- menyumbang emisi karbon dioksida (CO2) yang dapat memicu dampak buruk perubahan iklim.
Emisi karbon CO2 dari pembangkit listrik dan sektor pemanas menyumbang sekitar 40 persen dari total emisi CO2 di Tiongkok.

Seperti dikutip dari Katadata, World Research Institute (WRI) mencatat, lebih dari setengah emisi gas rumah kaca global disumbang sepuluh negara di dunia, dan data Climate Watch yang dirilis WRI Indonesia menunjukkan, Tiongkok merupakan kontributor emisi gas rumah kaca terbesar hingga awal 2018. 

Tiongkok menghasilkan 12.399,6 juta metrik ton karbon dioksida ekuivalen (MtCO2e). Jumlah itu setara 26,1% dari total emisi global. 

Merujuk pada kenyataan sebagai penyumbang emisi global terbesar, inilah saatnya bagi Tiongkok untuk menunjukkan langkah konkret dalam mengatasi perubahan iklim.

Dokumen panduan yang dirilis Tiongkok pada akhir Oktober lalu menjelaskan, untuk mencapai tujuan netralitas karbon, Tiongkok harus mematuhi prinsip "perencanaan nasional secara keseluruhan, prioritas penghematan, penggerak dua roda, kelancaran arus internal dan eksternal, serta pencegahan risiko."

Panduan tersebut mengajukan target "3 langkah" untuk tahun 2025, 2030, dan 2060. Pada 2025, tahap awal sistem ekonomi untuk pembangunan sirkular hijau dan rendah karbon mulai terbentuk, dan efisiensi energi dari industri utama telah sangat meningkat. Konsumsi energi per unit PDB akan berkurang 13,5% dibandingkan tahun 2020; emisi CO2 per unit PDB akan berkurang 18% dibandingkan tahun 2020; proporsi konsumsi energi non-fosil akan mencapai sekitar 20%; tingkat cakupan hutan akan mencapai 24,1%, dan stok hutan akan mencapai 18 miliar meter kubik, semua itu akan meletakkan dasar yang kuat untuk mencapai puncak karbon dan netralitas karbon.

Pada 2030, Tiongkok akan menyaksikan pencapaian signifikan dalam transformasi hijau sosio-ekonomi yang komprehensif, dengan efisiensi energi di industri utama yang mengonsumsi energi mencapai tingkat internasional yang maju. Konsumsi energi per unit PDB akan menurun secara signifikan, emisi CO2 akan mencapai puncaknya lalu mulai menurun secara stabil.

Selang 30 tahun setelahnya, sistem ekonomi hijau, rendah karbon dan sirkular, serta sistem energi yang bersih, rendah karbon, aman dan efisien akan sepenuhnya terbentuk. Efisiensi penggunaan energi akan mencapai tingkat internasional yang maju, dan pangsa konsumsi energi non-fosil akan melampaui 80%. Tiongkok akan mencapai target netral karbon, mencapai hasil yang bermanfaat dalam peradaban ekologis, serta mencapai tingkat keselarasan baru antara manusia dan alam.

Dalam KTT COP26 di Glasgow, Skotlandia pada Senin pekan lalu, Presiden Tiongkok Xi Jinping menyampaikan pesan tertulis, meminta semua pihak mengambil tindakan yang lebih serius dalam bersama-sama mengatasi tantangan perubahan iklim dan melindungi Bumi yang menjadi rumah bersama, lapor Metro Xinwen pada Rabu, 3 November 2021.

Xi mengatakan, dampak buruk dari perubahan iklim sudah semakin nyata dan menghadirkan urgensi yang semakin besar untuk tindakan global. Karena itu, ia mengimbau semua pihak untuk menghormati komitmen, menetapkan target dan visi yang realistis, serta melakukan yang terbaik sesuai dengan kondisi masing-masing untuk mengatasi perubahan iklim.

Tiongkok sendiri berencana mengurangi konsumsi batu bara untuk pembangkit listrik demi menurunkan emisi gas rumah kaca. Seperti dilansir dari Channel News Asia, Kamis, 4 November 2021, Perencana Ekonomi Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional Tiongkok (NDRC) mengungkapkan, pada 2025, pembangkit listrik tenaga batu bara harus menyesuaikan tingkat konsumsinya menjadi rata-rata 300 gram batu bara standar per kilowatt-jam (kWh). 

Baca:  Turunkan Emisi Karbon, Tiongkok Komitmen Kurangi Konsumsi Batu Bara

Media BBC pada Agustus lalu melaporkan, para peneliti di Universitas Tsinghua di Beijing mengatakan bahwa Tiongkok harus berhenti menggunakan batu bara sepenuhnya dalam menghasilkan listrik pada 2050, agar digantikan energi nuklir dan energi terbarukan. Para peneliti juga menyebutkan 90% tenaga listrik harus berasal dari nuklir dan energi terbarukan pada 2050.

Kementerian Luar Negeri Tiongkok pernah menekankan bahwa pihaknya mengambil langkah-langkah kuat dalam mengatasi perubahan iklim yang memiliki kontribusi aktual.

Komitmen ini harus dibarengi tindakan nyata, bila tidak akan menjadi sia-sia. Perubahan iklim saat ini menimbulkan tantangan berat bagi kelangsungan hidup dan pembangunan manusia.

Tidak hanya Tiongkok, semua negara perlu bekerja sama untuk menghadapinya, bahkan negara-negara maju, termasuk Amerika Serikat, harus mengikuti prinsip tanggung jawab bersama.

(WIL)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id