Pembunuhan Qasem Soleimani, Kabar Baik bagi ISIS

    Arpan Rahman - 10 Januari 2020 16:08 WIB
    Pembunuhan Qasem Soleimani, Kabar Baik bagi ISIS
    Kepala Pasukan Elit Garda Revolusi Islam Quds Qassem Soleimani. Foto: AFP
    Baghdad: Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk membunuh Jenderal Qasem Soleimani, kepala Pasukan Quds Iran, telah memicu serangkaian konsekuensi. Salah satu yang pertama ialah perang melawan militan Islamic State (ISIS).

    Hampir seketika koalisi pimpinan AS melawan kelompok militan ISIS menghentikan operasi di Irak. AS dan sekutu mereka mengumumkan bahwa pekerjaan utama mereka sekarang adalah membela diri. Dari sudut pandang militer, mungkin mereka tidak punya pilihan.

    Dikutip dari BBC, Jumat 10 Januari 2020, Iran dan milisi yang mereka sponsori di Irak bersumpah melakukan pembalasan atas pembunuhan melalui rudal yang ditembakkan oleh pesawat tak berawak AS ke kendaraan Soleimani ketika meninggalkan bandara Baghdad, pada Jumat pekan lalu.

    Aksi itu menempatkan pasukan AS di Irak, dan personel dari sekutu Barat yang bekerja bersama mereka tepat di garis tembak.

    Ini juga sangat baik untuk ISIS, dan akan mempercepat pemulihannya dari pukulan telak ketika ‘kekhalifahan’-nya dihancurkan. Juga merupakan kabar baik bagi para ekstremis bahwa parlemen Irak meloloskan mosi yang menuntut penarikan segera Amerika dari seluruh negara.

    ISIS telah membeku dengan suram selama bertahun-tahun. Militan ini meregenerasi dirinya sendiri dari reruntuhan kelompok sebelumnya, Al Qaeda di Irak.

    Sebuah operasi militer besar pada 2016 dan 2017 diperlukan buat mengakhiri kendali ISIS atas wilayah yang mengangkangi Irak dan Suriah.

    Banyak militan yang mati atau dipenjara. Tetapi itu tidak membasmi organisasi. ISIS masih aktif di daerah bekas kekuasaannya di Irak dan Suriah, meningkatkan penyergapan, memeras dana, dan menyudahi lebih banyak nyawa.

    Sementara Irak memiliki satuan pasukan elit dan polisi yang efektif, terutama dilatih oleh Amerika dan sekutu Eropa yang bergabung dalam perang melawan ISIS.

    Sejak terbunuhnya Soleimani, AS telah menangguhkan pelatihan serta operasi. Begitu juga Denmark dan Jerman. Jerman menarik para pelatih militer ke Yordania dan Kuwait.

    Pasukan Irak mengambil sebagian besar risiko di lapangan dalam operasi melawan ISIS. Tetapi selain pelatihan, mereka mengandalkan bantuan logistik vital dari pasukan AS, yang sekarang meringkuk di pangkalan mereka.

    Militan ISIS punya sesuatu yang lain untuk dirayakan. Ketika Trump memutuskan untuk membunuh Soleimani, mereka diberi hadiah tontonan salah satu musuh mereka, presiden AS, membunuh yang lain.

    Pada 2014, para militan melakukan ofensif, merebut bagian kawasan luas Irak, termasuk Mosul, kota kedua negara itu.

    Ulama Syiah terkemuka di Irak, Ayatollah Ali al-Sistani, mengeluarkan seruan mengangkat senjata untuk memerangi ekstremis Sunni.

    Para pemuda Syiah menjadi relawan dalam jumlah ribuan -- dan Soleimani dan Pasukan Quds-nya adalah bagian besar dari transformasi mereka menjadi sejumlah kelompok bersenjata. Para milisi itu kejam, seringkali merupakan musuh ISIS yang brutal.

    Sekarang, kelompok-kelompok yang didukung Iran telah diserap ke dalam militer Irak di bawah organisasi payung yang disebut Mobilisasi Populer. Para pemimpin milisi yang paling menonjol telah menjadi pemimpin politik yang kuat.

    Di tahun-tahun setelah 2014, AS dan milisi menghadapi musuh yang sama. Tetapi milisi Syiah sekarang tampak pasti akan kembali ke akarnya, yakni perang melawan pendudukan pimpinan AS setelah invasi 2003.

    Mereka membunuh banyak tentara Amerika --dibantu dengan pelatihan dan senjata yang lebih baik dipasok oleh Soleimani-- yang merupakan salah satu alasan Presiden Trump memerintahkan serangan pekan lalu.

    Sejak Trump secara sepihak menarik diri dari perjanjian nuklir Iran pada 2018, Amerika dan Iran telah bergerak ke ambang perang. Sebelum Soleimani terbunuh, milisi Syiah sudah kembali menargetkan pasukan Amerika.

    Sebuah serangan pada akhir Desember di sebuah pangkalan di Irak utara yang menewaskan seorang kontraktor AS dijawab serangan udara yang menewaskan sedikitnya 25 pejuang dari sebuah kelompok bernama Kataib Hezbollah.

    Pemimpin mereka, Abu Mahdi al-Muhandis, bertemu Soleimani di bandara Baghdad dan hancur berkeping-keping di sampingnya dalam mobil yang sama.

    Sejarah telah menunjukkan bahwa para ekstrimis militan berkembang pesat ketika mereka dapat mengambil keuntungan dari ketidakstabilan, kekacauan, dan musuh-musuh yang terbelah dan dilemahkan. Itu telah terjadi sebelumnya dan ada peluang kuat itu akan terjadi lagi.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id