comscore

Omicron Jangan Dianggap Remeh!

Marcheilla Ariesta - 17 Januari 2022 07:53 WIB
Omicron Jangan Dianggap Remeh!
Ilustrasi Covid-19. (AFP)
Jakarta: Varian terbaru Covid-19, Omicron, sejauh ini dinilai tidak lebih berbahaya dari varian-varian sebelumnya. Namun nyatanya, varian ini menambah jumlah kasus infeksi dua kali lebih cepat dibanding varian lain, termasuk Delta.

Varian Omicron dinilai lebih berdampak ke negara-negara Barat. Di Amerika Serikat, kasus harian Covid-19 yang dipicu Omicron sempat melampaui 1 juta.
Namun, ada juga negara yang menganggap varian Omicron seperti flu biasa karena memang gejalanya mirip influenza. Menular tapi tidak mematikan. Angka kasus kematian akibat Omicron memang masih sedikit. Tapi, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meminta varian ini jangan dianggap remeh.

Direktur WHO Eropa Hans Kluge meminta agar varian ini jangan diperlakukan seperti flu biasa. Pasalnya, saat ini Omicron dinilai berada 'di jalur yang tepat' untuk dapat menginfeksi lebih dari setengah populasi di Eropa.

"Pada tingkat ini, Institut Metrik dan Evaluasi Kesehatan memperkirakan bahwa lebih dari 50 persen populasi di wilayah tersebut akan terinfeksi Omicron dalam enam-delapan minggu ke depan," kata Direktur WHO Eropa, Hans Kluge.

Sebanyak 50 dari 53 negara di Eropa dan Asia Tengah telah mencatat kasus Omicron. Kluge menyebut, ada bukti bahwa Omicron mempengaruhi saluran pernapasan bagian atas, menyebabkan gejala yang lebih ringan daripada varian sebelumnya. Namun, WHO memperingatkan bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan untuk membuktikan hal ini.

Terlepas dari laporan bahwa Omicron lebih banyak memicu kasus tanpa gejala (asimtomatik) dengan angka rawat inap yang rendah, WHO mengatakan masih terlalu dini untuk melabeli varian ini sebagai endemik.

"Virus (Covid-19) berkembang cukup cepat dan menimbulkan tantangan baru. Jadi kami tentu tidak bisa menyebutnya sebagai endemik,” ujar petugas darurat senior WHO Catherine Smallwood.

Di Indonesia sendiri, varian Omicron masuk pada akhir Desember. Hingga pekan lalu, jumlah kasus aktif di Indoensia mencapai 8.463, yang mayoritasnya adalah varian Omicron. Karantina warga dari luar negeri kembali diperketat, dan periodenya kembali menjadi 10 hari setelah sempat hanya 3 hari.

Setiap hari tren peningkatan kasus Omicron di Indonesia terus bertambah. Vaksin booster digencarkan agar antibodi masyarakat kembali terbentuk. Indonesia baru sekali melakukan booster dan saat ini masih dikhususkan bagi mereka yang sudah lebih dari 6 bulan menerima suntikan vaksin kedua.

Baca:  Transmisi Lokal Omicron di Jakarta Naik, Masyarakat Diminta Waspada

Di beberapa negara lain, vaksin booster sudah diberikan hampir dua kali. WHO menilai dua booster bukan cara tepat untuk menangani Covid-19. Menurut WHO, menjaga protokol kesehatan, seperti tetap memakai masker dinilai masih menjadi metode efektif.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Indonesia, dr. Siti Nadia Tarmizi, M. Epid mengatakan varian Omicron memiliki gejala yang sama dengan varian Covid-19 lainnya. Namun, yang membedakan adalah, Omicron cenderung tidak bergejala atau mirip gejala flu biasa seperti batuk dan pilek.

Karakteristik seperti itu membuat banyak orang yang positif Omicron tidak menyadari bahwa dirinya sudah terinfeksi. Dengan demikian, Nadia mengimbau masyarakat tetap waspada, dan jika ada perubahan kesehatan pada diri, segera memeriksa ke fasilitas kesehatan.

Pedoman protokol kesehatan di Indonesia juga tidak berubah, tetap memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak sosial. Masyarakat didorong untuk tidak takut dan memeriksakan diri jika merasa terinfeksi covid-19. Penyakit ini bukan aib, tapi sesuatu yang harus diberantas bersama.

(WIL)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id