Penembakan Selandia Baru dan Geliat Ekstrem Kanan

    Arpan Rahman - 21 Maret 2019 06:35 WIB
    Penembakan Selandia Baru dan Geliat Ekstrem Kanan
    Brenton Tarrant, pelaku penembakan di Masjid di Christchurch, Selandia Baru. (Foto: AFP).
    London: Serangan teroris pada Jumat 15 Maret di Christchurch, Selandia Baru, yang menewaskan sedikitnya 50 Muslim, bukanlah peristiwa yang terisolasi.

    Hal tersebut disampaikan Peter R. Neumann, guru besar studi keamanan di King's College London dan direktur pendiri Pusat Internasional untuk Studi Radikalisasi (International Center for the Study of Radicalization).

    Opininya dikutip Medcom.id dari laman Washington Post, edisi Selasa 19 Maret 2019, berlanjut, berikut:

    Di negara-negara Barat, kejahatan rasial anti-Muslim dan serangan kekerasan telah meningkat. Awal tahun ini, Anti-Defamation League melaporkan bahwa 2018 adalah tahun terburuk untuk aksi pembunuhan ekstrem kanan di Amerika Serikat sejak 1995, ketika Timothy McVeigh membunuh 168 orang di Kota Oklahoma.

    Di Inggris, pemerintah menganggap ekstremisme sayap kanan sebagai ancaman yang meningkat dan baru-baru ini secara perdana melarang kelompok ekstremis sayap kanan, menyebutnya sebagai "teroris." Badan intelijen domestik Jerman telah mengamati peningkatan terus-menerus dalam jumlah "potensi kekerasan ekstremis sayap kanan," dengan perkiraan saat ini 13.000 orang.

    Bagaimana bisa terjadi?

    Tidak ada penjelasan tunggal untuk tren ini. Seperti halnya beragam bentuk radikalisasi lainnya, terorisme terjadi ketika beberapa faktor bertemu: politik, ideologi, dan struktur-struktur yang terjalin orang-orang dimobilisasi. Sejauh menyangkut politik, proses polarisasi di sebagian besar negara Barat telah menciptakan ketakutan dan rasa tidak aman yang tersebar luas. Narasi ketakutan ini berkisar pada efek migrasi, terutama dari negara-negara mayoritas Muslim, yang oleh politisi populis disajikan sebagai ancaman eksistensial terhadap identitas Barat dan "cara hidup kita."

    Retorika seputar kebangkitan Islamic State (ISIS) dan kampanye terorisnya di kota-kota seperti Paris, Brussels, dan London tidak hanya mengkonfirmasi ketakutan ini tetapi juga memberikan rasa urgensi dan kedekatan yang lebih besar, yang memicu respons kekerasan. Seperti hampir semua teroris, penyerang di Selandia Baru menggambarkan tindakannya dalam istilah defensif -- baik sebagai reaksi terhadap "invasi" Muslim yang sedang berlangsung dan sebagai pembalasan atas serangan militan Islamis, yang ia anggap sebagai bagian dari ancaman yang sama.

    Dari sudut pandangnya, korupsi sistem politik Barat dan ancaman menjulang "penjajahan" Muslim membuat aktivisme tanpa kekerasan menjadi sia-sia: "Tidak ada solusi demokratis," ia berulang kali menulis dalam manifestonya.

    Faktor kedua adalah sejenis ideologi yang dapat mengubah ketakutan dan keluhan seperti itu menjadi proyek politik yang koheren (kurang lebih). Pada ekstrem kanan, beberapa tahun terakhir tampak pergeseran besar dari fokus tradisional pada supremasi ras menuju ide-ide yang seharusnya lebih inklusif seperti identitas dan budaya.

    Gerakan "identik" muncul di Prancis tetapi telah sangat mempengaruhi sayap kanan alternatif (alt-right) AS. Gerakan ini tidak lagi berbicara tentang warna kulit tetapi mengekspresikan agendanya dalam istilah budaya dan peradaban -- sebagai tugas untuk melestarikan apa yang disebut identitas Eropa melawan penyerangan agresif oleh budaya "non-Eropa", khususnya Islam. Menurut para pakar identitas, musuh di dalamnya adalah elit budaya Marxis yang secara sistematis memburu pergantian populasi kulit putih Eropa melalui migrasi massal, dan memang, manifesto penyerang Christchurch diberi judul "Sebuah Pergantian Agung."

    Mengakomodasi rasisme

    Kekuatan ideologi identitas terletak pada fakta bahwa itu tidak secara terbuka rasis tetapi dengan mudah mengakomodasinya. Dengan berbicara tentang budaya dan identitas, alih-alih ras, ini menggambarkan kelompok-kelompok yang tidak berkulit putih dan atau Kristen sebagai yang tidak diinginkan tanpa merujuk etnisitas atau warna kulit mereka, memungkinkan gerakan sayap kanan terhubung dengan bagian yang lebih luas dari sayap kanan populis.

    Di saat yang sama, para rasis individual seperti mantan pemimpin Ku Klux Klan, David Duke, memahami dengan baik bahwa konsep-konsep identitas tersebut sepadan -- jika tidak identik -- dengan ideologi mereka yang lebih kuno. Sebagai ganti supremasi kulit putih, misalnya, orang-orang yang identik berbicara tentang etno-pluralisme -- yang terdengar netral, bahkan progresif, tetapi pada dasarnya berarti hal yang sama.

    Pada tingkat pribadi, ideologi identitas memungkinkan para teroris seperti penyerang Christchurch terkait dengan garis panjang para pejuang untuk "budaya Eropa." Seperti yang ditunjukkan oleh Thomas Hegghammer tahun lalu, salah satu narasi terkuat bagi militan Islamis dan ekstremis sayap kanan adalah dari Perang Salib.

    Seperti Anders Breivik, teroris Norwegia yang menewaskan 77 orang dalam serangan Juli 2011, penyerang Selandia Baru itu menggambarkan dirinya sebagai anggota Knights Templar -- pasukan Tentara Salib dengan reputasi menakutkan dalam pertempuran melawan musuh Muslim.

    Akhirnya, terorisme biasanya membutuhkan struktur yang bila melaluinya orang dimobilisasi untuk bertindak. Dalam kasus penyerang Christchurch, ini tampaknya merupakan subkultur virtual ekstrem kanan di pelantar seperti 8Chan, 4Chan, Reddit, Twitter, dan lainnya.

    Sementara banyak perhatian dalam beberapa tahun terakhir telah difokuskan pada aktivitas kelompok-kelompok militan Islamis di situs-situs utama seperti Facebook, posisi ekstrem kanan lebih lama -- dan, bisa dibilang, lebih luas -- kehadirannya di forum diskusi yang lebih kecil dan blog yang hampir tidak diperhatikan. Namun, seperti diperlihatkan George Hawley, kebangkitan alt-right dan gerakan-ekstrem-kanan lainnya hampir tidak dapat dibayangkan tanpa "budaya troll internet" dari mana mereka muncul.

    Mengatasi ekstrem kanan

    Manifesto penyerang Christchurch tidak hanya mencerminkan narsisme dan ketidaksopanan budaya daring itu, tetapi juga mengandung banyak referensi tentang meme dan lelucon gelap yang telah menonjol di antara alt-right virtual. Di luar kemampuan untuk terhubung dengan orang-orang yang berpikiran sama, tenggelam dalam subkultur daring ekstrem kanan memberinya rasa menjadi bagian dari gerakan yang cukup besar dan signifikan, dengan pendukung di mana-mana di dunia. Seperti Breivik, ia tidak melihat dirinya sebagai "penyerang tunggal" tetapi sebagai pioner yang banyak teladannya akan ditiru.

    Serangan Selandia Baru seharusnya tidak mengejutkan. Ekstrem kanan lebih kuat dan lebih berani kini daripada sebelumnya. Para pemangku kebijakan di semua negara Barat perlu menanggapinya dengan serius karena kekerasannya tidak hanya mengancam kehidupan, tetapi juga merusak kemajemukan dan kebebasan yang menjadi basis masyarakat Barat. Langkah pertama adalah mengakui bahwa ada masalah. Lagipula, kita tidak akan pernah bisa menghadapi ancaman ini kecuali kita mengerti.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id