Uni Eropa Pertimbangkan Permintaan Penundaan Brexit

    Arpan Rahman - 20 Oktober 2019 18:36 WIB
    Uni Eropa Pertimbangkan Permintaan Penundaan Brexit
    Perdana Menteri Inggris Boris Johnson berdebat dengan Parlemen terkait Brexit. Foto: AFP
    Brussels: Para pemimpin Uni Eropa pada Minggu mempertimbangkan permintaan Perdana Menteri Boris Johnson untuk menunda keluarnya Inggris dari blok tersebut. Penundaan terpaksa diajukan Johnson setelah anggota parlemen menolak untuk mendukung perjanjian Brexit usulannya.

    Johnson mempertaruhkan jabatannya untuk mengeluarkan Inggris dari Uni Eropa pada 31 Oktober, lebih dari tiga tahun setelah pemungutan suara referendum 2016 untuk Brexit.

    Tetapi DPR (House of Commons) pada Sabtu menolak untuk mendukung kesepakatan perpisahan yang dia lakukan dengan Brussels pekan lalu. Keputusan itu memicu sebuah undang-undang yang menuntut dia menunda Brexit untuk menghindari risiko keluarnya Inggris tanpa kesepakatan.

    Pemimpin Konservatif mengirim surat kepada Presiden Dewan Eropa Donald Tusk Sabtu malam meminta penundaan tiga bulan yang diperlukan -- tetapi tidak menandatanganinya.

    "Perpanjangan lebih lanjut akan merusak kepentingan Inggris dan mitra Uni Eropa kami,” ujar Johnson, seperti dikutip AFP, Minggu, 20 Oktober 2019.

    "Saya tidak akan menegosiasikan penundaan dengan Uni Eropa,” imbuhnya.

    Tusk mengatakan akan mulai berkonsultasi dengan para pemimpin Uni Eropa "tentang bagaimana bereaksi" -- sebuah proses yang menurut seorang diplomat dapat memakan waktu beberapa hari.

    Johnson sudah berbicara dengan para pemimpin Prancis, Jerman, dan Belanda untuk menekan kasusnya -- dan Paris Sabtu memperingatkan bahwa "tidak ada kepentingan" penundaan Brexit.

    Sementara itu, Johnson akan mengajukan legislasi yang ia harap akan mengizinkan Brexit pada 31 Oktober. Anggota parlemen memilih untuk menahan persetujuan buat perjanjian versinya kecuali dan sampai undang-undang yang diperlukan untuk meratifikasi perjanjian disahkan melalui parlemen.

    Pemerintah sedang mengupayakan pemungutan suara baru pada kesepakatannya pada Senin, meskipun ini mungkin melanggar prosedur parlementer.

    Namun, jika ia memperkenalkan RUU implementasi perjanjian pada Senin, anggota parlemen dapat dipanggil untuk memberikan suara pada Selasa.

    Johnson bujuk parlemen


    PM Boris Johnson menulis kepada Tusk bahwa dia "yakin" dia bisa menyelesaikannya sebelum bulan ini. Namun, oposisi utama Partai Buruh mengecam kesepakatan itu sebagai "penjualan", sementara sekutu Johnson di Irlandia Utara menentang pengaturannya untuk provinsi tersebut.

    Johnson mengirim surat ke Brussels setelah seharian drama tinggi di DPR, yang menggelar Sabtu pertamanya dalam 37 tahun untuk memperdebatkan kesepakatan Brexit.

    Dia mendesak anggota parlemen untuk mengakhiri tahun-tahun ketidakpastian yang membebani perekonomian dan memecah belah bangsa -- tetapi mereka menolak, memperingatkan kesepakatannya akan membuat Inggris lebih buruk.

    Tanggal Brexit telah didorong mundur dua kali, menjadi kemarahan bagi mereka yang ingin memetakan arah mereka sendiri dan meninggalkan proyek Eropa setelah hampir 50 tahun.

    Tetapi ada juga kegembiraan saat pemungutan suara di antara puluhan ribu pengunjuk rasa yang berkumpul di luar parlemen pada Sabtu menuntut referendum baru untuk membalikkan Brexit.

    "Itu sangat bagus, itu satu langkah lagi dari Brexit," kata demonstran Philip Dobson, dilansir dari AFP, Minggu 20 Oktober 2019.

    "Tolak Brexit", "Put It To The People" dan "Stop This Madness" terbaca beberapa plakat di pawai massal, tempat banyak pemrotes juga mengibarkan bendera Uni Eropa.

    Johnson mulai menjabat pada Juli dan berjanji akan meninggalkan UE pada 31 Oktober, apa pun yang terjadi.

    Tetapi anggota parlemen yang takut akan risiko "tanpa kesepakatan" berusaha mengikat tangannya, dengan undang-undang yang menuntut dia menunda Brexit jika dia gagal mendapatkan persetujuan yang disetujui pada 19 Oktober.

    Amendemen yang disahkan Sabtu dirancang khusus demi menghindari skenario ini.

    Anggota parlemen khawatir mereka mungkin akan melewati kesepakatan Brexit tetapi kemudian macet dengan undang-undang yang diperlukan guna mengimplementasikannya. Seraya mempertaruhkan Inggris secara tidak sengaja tersingkir dari Uni Eropa pada akhir bulan.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id