RI Tekankan Pentingnya Kerja Sama Global Kesehatan Mata

    Willy Haryono - 12 Oktober 2019 07:51 WIB
    RI Tekankan Pentingnya Kerja Sama Global Kesehatan Mata
    Dubes/Watapri Hasan Kleib (dua kiri) di kantor WHO di Jenewa, Swiss, 9 Oktober 2019. (Foto: Mission-Indonesia)
    Jenewa: Duta Besar/Wakil Tetap Republik Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa, Hasan Kleib, telah diminta Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk menjadi salah satu panelis peluncuran World Report on Vision di kantor WHO Jenewa pada 9 Oktober. Peluncuran laporan ini juga dihadiri oleh Direktur Jenderal WHO, Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus.

    Dalam keterangan di situs Mission-Indonesia, Jumat 11 Oktober 2019, ditegaskan Dubes Kleib bahwa kesehatan mata merupakan bagian tak terpisahkan dalam program global pencapaian universal health coverage. Disampaikan bahwa Pemerintah Indonesia telah menaruh prioritas dengan mencanangkan penurunan angka gangguan kesehatan mata hingga 25 persen di tahun 2030.

    Indonesia juga prihatin dengan data dalam laporan World Report on Vision 2019, bahwa sekitar 2,2 miliar orang di dunia masih mengalami gangguan kesehatan mata. Sekitar 1 miliar dari gangguan mata itu diakibatan tidak tersedianya pelayanan kesehatan yang baik. Salah satu cara mengatasi hal tersebut adalah terus mendorong penggalangan dukungan kerja sama global di bidang kesehatan mata.

    WHO mengundang secara khusus Indonesia sebagai panelis dalam peluncuran laporan ini mengingat komitmen politik dan kepemimpinan Indonesia menuju pencapaian program Universal Health Coverage. Indonesia juga memiliki strategi yang dikembangkan, seperti penyediaan pelayanan kesehatan mata komprehensif melalui Puskesmas, serta anggaran yang memadai, terutama untuk membiayai operasi Katarak yang menjadi penyebab utama masalah kebutaan mata di Indonesia.

    Peluncuran World Report on Vision bertepatan dengan World Sight Day yang diperingati setiap tanggal 10 Oktober. Selain Watapri Dubes Hasan Kleib, hadir pula sebagai panelis lainnya yaitu Dubes/Watap Meksiko, Australia, Dirjen WHO dan CEO Sightsaver.

    World Report on Vision ini merupakan laporan yang pertama kali disusun oleh WHO. Hal-hal yang menjadi perhatian dalam laporan ini adalah bahwa kondisi dan masalah kesehatan mata sebagian besar dialami kelompok masyarakat yang tinggal di pedalaman/pedesaan, berpenghasilan rendah, perempuan, lansia, dan penyandang disabilitas. 
    Masalah kesehatan mata di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah diperkirakan 4 (empat) kali lebih tinggi dibanding negara-negara kaya. Di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah dalam kawasan Sub-Saharan Africa Barat dan Timur serta Asia Selatan, memiliki tingkat kebutaan mata 8 (delapan) kali lebih tinggi dibanding negara-negara maju. 

    Tingkat penderita katarak dan trachomatous trichiasis lebih tinggi diderita oleh kelompok perempuan, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

    Indonesia terus berpartisipasi aktif di WHO untuk memperkuat kerja sama peningkatan kapasitas di bidang kesehatan. Peningkatan kapasitas ini tentunya diperlukan oleh banyak negara berkembang. Kerja sama ini penting bagi Indonesia untuk mengatasi tantangan distribusi dan ketersediaan layanan kesehatan terutama di daerah-daerah pelosok di tanah air.

    Peluang Ekonomi dari Partisipasi Indonesia pada Kerja Sama Kesehatan Global

    Sebagai anggota WHO, Indonesia telah secara aktif memajukan kerja sama global di bidang kesehatan. Indonesia adalah anggota Executive Board WHO yang fungsi utamanya adalah mempersiapkan keputusan dan kebijakan dari Pertemuan Global Kesehatan WHO atau World Health Assembly. Saat ini, Indonesia dan Australia sedang memajukan agar kesehatan mata dapat menjadi salah satu agenda pertemuan WHA 2020.

    Dubes Hasan Kleib dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa terdapat peluang bagi Indonesia sebagai negara anggota WHO untuk melakukan expose agar komoditas ekspor kesehatan Indonesia. baik itu produk farmasi/obat-obatan dan khususnya alat kesehatan, dapat lebih dikenal luas di tingkat global.

    "Indonesia merupakan eksportir ke-39 di dunia untuk alat kesehatan, dan hal ini tentunya harus terus ditingkatkan sehingga menambah devisa dan dapat menjadi komoditi ekpor unggulan. Dalam hal ini partisipasi aktif dan kepemimpinan Indonesia di berbagai organisasi internasional di Jenewa, termasuk WHO, juga ditujukan untuk mendukung pemasaran produk komoditas unggulan ekspor Indonesia," tegas Dubes Hasan Kleib.

    Tren permintaan Produk Alat Kesehatan global selama 2012-2016 terus meningkat (1,01 persen ), mencapai total nilai USD 72 miliar dengan pasar potensial untuk produk alat kesehatan yaitu Irlandia, Meksiko, Belanda, Tiongkok, Spanyol dan Amerika Serikat. 

    Untuk Indonesia, terjadi pertumbuhan 12 persen per tahun untuk industri alat kesehatan. Sementara peningkatan 72 persen di bidang industri farmasi dilakukan sejumlah perusahaan lokal. 




    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id