Rusia Diperintahkan untuk Bebaskan Pelaut Ukraina

    Willy Haryono - 26 Mei 2019 09:17 WIB
    Rusia Diperintahkan untuk Bebaskan Pelaut Ukraina
    Kapal Ukraina yang disita Rusia terlihat di pelabuhan Kerch, Krimea, 26 November 2018. (Foto: STR/AFP)
    Hamburg: Sebuah pengadilan internasional memerintakan Rusia untuk "segera" membebaskan 24 pelaut Ukraina dan tiga kapal mereka yang disita dari lepas pantai Krimea pada November tahun lalu.

    Moskow mengatakan para pelaut itu melanggar batas maritim di dekat Krimea, yang dicaplok dari Ukraina pada 2014.
    Namun Pengadilan Internasional untuk Hukum Laut mendukung cerita dari sisi Ukraina. Rusia menolak mengakui yurisdiksi dari pengadilan tersebut.

    Rusia memboikot sidang dengar pendapat di Pengadilan Internasional untuk Hukum Laut yang bermarkas di Hamburg, Jerman. Sejumlah analis meyakini kemungkinan Rusia patuh terhadap perintah pengadilan relatif minim.

    Peristiwa di lepas pantai Krimea itu bermula saat tiga kapal Ukraina beserta para krunya melewati Terusan Kerch, satu-satunya akses dari pelabuhan Ukraina menuju Laut Azov.

    Sejak menganeksasi Krimea, Terusan Kerch dikuasai Rusia, dan petugas penjaga pantainya pun menembaki tiga kapal Ukraina. Rusia menahan 24 pelaut Ukraina sejak saat itu.

    "Federasi Rusia harus segera membebaskan para pelaut Ukraina dan mengizinkan mereka pulang ke negaranya," ujar Jin-Hyuan Paik, salah satu hakim di Pengadilan Internasional Untuk Hukum Laut, dilansir dari laman BBC, Sabtu 25 Mei 2019.

    Meski 'menyerang' Rusia, pengadilan tidak mengabulkan permohonan Ukraina untuk menahan proses pengadilan yang akan dihadapi 24 pelaut di Moskow. Jika terbukti bersalah di bawah hukum Rusia, 24 pelaut Ukraina itu dapat dijatuhi vonis enam tahun penjara.

    Perintah dari pengadilan internasional dipandang sebagai kemenangan oleh Ukraina. Presiden baru Ukraina Volodymyr Zelenskiy meminta Rusia mematuhi perintah pengadilan.

    Ia menilai jika Rusia mematuhi perintah pengadilan, maka itu berpotensi menjadi "sinyal pertama dari Rusia mengenai kesiapan mengakhiri konflik dengan Ukraina."

    Sejak dilantik pada 20 Mei, Zelenskiy menegaskan prioritas pertamanya adalah mengakhiri konflik di wilayah timur Ukraina, yang saat ini dikuasai separatis pro-Rusia. Konflik di wilayah tersebut telah menewaskan sekitar 13 ribu orang sejak 2014.

    Baca: Rusia Tembak Kapal Perang Ukraina, Picu Krisis Terbaru



    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id