Cacat Ringan, Bocah Bangladesh Terancam Dideportasi Australia

    Arpan Rahman - 03 November 2019 20:05 WIB
    Cacat Ringan, Bocah Bangladesh Terancam Dideportasi Australia
    Adyan, anak dari Dr Mahedi Hasan Bhuiyan, terancam dideportasi dari Australia. (Foto: Guardian)
    Canberra: Seorang bocah berusia lima tahun di Australia terancam dideportasi ke Bangladesh bersama keluarganya usai pengajuan visa mereka ditolak. Alasan penolakan adalah, bocah tersebut menderita "cacat ringan" yang diyakini dapat menjadi beban pada sistem kesehatan di Australia.

    Dr Mahedi Hasan Bhuiyan tiba di Australia dengan menggunakan visa pelajar pada 2011. Ia dan Rebaka Sultana menikah satu tahun setelahnya di Bangladesh. Istri Bhuiyan kemudian menyusul suaminya ke Australia pada 2013.

    Tahun itu, anak Bhuiyan dan Sultana, Adyan, lahir di rumah sakit Geelong. Beberapa bulan usai kelahiran, Bhuiyan dan Sultana menyadari anak mereka seperti kesulitan mengangkat kepalanya sendiri.

    Rangkaian tes menunjukkan bahwa Adyan mengalami penyakit cerebral palsy stadium ringan, yang kemungkinan diakibatkan sebuah stroke tak lama usai kelahirannya.

    Bhuiyan, yang memiliki gelar sarjana di Bangladesh dan S2 dari Korea Selatan, menyelesaikan program PhD di Deakin University pada 2016. Ia dinominasikan pemerintah Victoria untuk mendapat visa permanen yang biasanya diberikan kepada imigran dengan kemampuan tinggi.

    Namun karena kondisi Adyan, nominasi visa tersebut ditolak di bawah aturan ketat "satu gagal semua gagal" yang diberlakukan di Australia. Keluarga Bhuiyan mengajukan banding melalui Pengadilan Banding Administratif (AAT).

    Sekitar 2,5 tahun kemudian, AAT tetap mempertahankan keputusan penolakan visa keluarga Bhuiyan.

    Pemeriksaan medis tahun ini menunjukkan bahwa Adyan memiliki "gangguan fungsi tubuh ringan" yang kemungkinan dapat menjadi permanen. Atas kondisi ini, kemungkinan Adyan harus mendapatkan dukungan dan perlakuan khusus saat bersekolah di Australia.

    "Saya tidak mengerti mengapa seorang anak yang memiliki sedikit kelemahan fungsi di tangan kirinya harus membutuhkan pendidikan khusus," kata Bhuiyan.

    "Sejauh yang saya tahu, pendidikan khusus dibutuhkan bagi mereka yang tidak dapat menghadiri sekolah-sekolah pada umumnya," tegasnya, disiarkan dari Guardian, Minggu 3 November 2019.

    Keluarga Bhuiyan mencoba meminta tolong kepada Menteri Keimigrasian David Coleman untuk bisa bertahan di Australia. Sebagai seorang menteri bidang imigrasi, Coleman memiliki kuasa untuk memberikan atau menolak visa.

    Saat memberikan atau menolak visa, Coleman tidak wajib menjelaskan alasannya.


    (WIL)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id