Rusia Kecam Intervensi Keji AS di Venezuela

    Willy Haryono - 03 Maret 2019 08:12 WIB
    Rusia Kecam Intervensi Keji AS di Venezuela
    Menlu Rusia Sergei Lavrov. (Foto: AFP)
    Moskow: Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengecam "intervensi keji" dan "pengaruh berbahaya" Amerika Serikat dalam krisis di Venezuela. Pernyataan tersebut disampaikannya kepada Menlu AS Mike Pompeo via sambungan telepon.

    "Provokasi dan pengaruh eksternal destruktif di bawah landasan bantuan kemanusiaan tidak ada hubungannya dengan proses demokrati," ujar Lavrov, seperti dinukil dari laman AFP, Sabtu 2 Maret 2019. Ia merujuk pada bantuan kemanusiaan asal AS yang hendak disalurkan ke ratusan ribu warga Venezuela.

    Tokoh oposisi Venezuela Juan Guaido hendak menyalurkan bantuan tersebut ke Venezuela. Namun Presiden Venezuela Nicolas Maduro menolaknya, dengan menyebut bantuan tersebut hanya kedok AS untuk melancarkan invasi.

    Kritik keras Lavrov dilontarkan satu hari usai AS dan Rusia berselisih paham mengenai cara membantu Venezuela yang sedang dilanda krisis ekonomi serta politik. Moskow berniat memberikan bantuan kemanusiaan via Maduro, sementara Washington menjatuhkan sejumlah sanksi ekonomi karena bantuannya diblokade pemerintah Venezuela.

    Masih dalam percakapannya via telepon, Lavrov mengecam "ancaman AS terhadap pemerintahan resmi" di Venezuela. Dia menuduh Washington melakukan "intervensi keji dalam urusan dalam negeri sebuah negara berdaulat yang melanggar hukum internasional."

    Kemenlu Rusia menambahkan Moskow telah mempersiapkan dialog bilateral dengan AS terkait isu Venezuela. Negeri Beruang Merah menekankan bahwa "hanya warga Venezuela yang berhak menentukan masa depan mereka sendiri."

    Selain Venezuela, Lavrov dan Pompeo juga membicarakan situasi di Suriah, Afghanistan dan Semenanjung Korea.

    Jumat kemarin, Lavrov berbicara dengan Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez di Moskow. Lavrov menegaskan bahwa Rusia akan tetap mendukung pemerintahan Maduro, termasuk dengan memberikan bantuan kemanusiaan. Hiperinflasi di Venezuela membuat mata uang bolivar menjadi hampir tidak bernilai, dan juga memicu langkanya sejumlah barang kebutuhan pokok.

    Guaido telah mendeklarasikan diri sebagai presiden interim pada Januari, dan menegaskan bahwa Maduro sudah tidak lagi menjadi pemimpin sah di Venezuela. AS dan 49 negara lainnya mendukung deklarasi tersebut.

    Sementara itu, lebih dari 500 prajurit Venezuela telah membelot dari Maduro ke Guaido. Sebagian besar dari mereka meninggalkan pos penjagaan dan menyeberang ke Kolombia.

    Menurut data pemerintah Kolombia, seperti dikutip dari laman Business Insider, Sabtu 2 Maret 2019, jumlah pembelot dari Venezuela sudah mencapai 567 orang. Angka itu dicatat sejak terjadinya bentrokan berdarah antara simpatisan Guaido dengan pasukan keamanan Venezuela di wilayah perbatasan pekan lalu.

    Baca: Jumlah Pembelot di Venezuela Terus Bertambah, Lampaui 500



    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id