PBB: Wabah Ebola di RD Kongo Belum Jadi Darurat Global

    Willy Haryono - 15 Juni 2019 19:08 WIB
    PBB: Wabah Ebola di RD Kongo Belum Jadi Darurat Global
    Pekerja kesehatan terlihat dari balik kaca pecah di pusat perawatan Ebola di RD Kongo. (Foto: AFP)
    Jenewa: Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo -- yang meluas ke Uganda pekan ini -- merupakan "kejadian luar biasa" yang membutuhkan perhatian khusus, namun belum mencapai level darurat global.

    Dikutip dari laman Stripes, Jumat 14 Juni 2019, ini merupakan pernyataan ketiga WHO terkait Ebola di DR Kongo, dimana sejumlah pakar mengatakan wabah di negara tersebut seharusnya dianggap sebagai darurat global sejak beberapa bulan lalu.

    Wabah Ebola ini, kedua paling mematikan dalam sejarah, telah menewaskan lebih dari 1.400 orang sejak dideklarasikan pada Agustus tahun lalu. Tiga orang dari satu keluarga yang membawa virus Ebola ke Uganda, telah meninggal dunia usai menghadiri pemakaman seorang pastor yang terjangkit di RD Kongo.

    Berbicara kepada awak media, ketua pelaksana tugas komite WHO Dr. Preben Aavitsland mengatakan bahwa wabah tersebut "memang sebuah darurat kesehatan di RD kongo, tapi situasinya belum dapat dinyatakan masuk ke level global."

    Untuk dapat dinyatakan sebagai darurat global, sebuah wabah harus masuk kategori risiko terhadap beberapa negara lain sehingga membutuhkan respons terkoordinasi. Deklarasi darurat global biasanya memicu lebih banyak aliran dana, sumber daya serta perhatian politik.

    Aavitsland mengatakan, komite "sangat kecewa" bahwa WHO dan beberapa negara terdampak Ebola belum menerima pendanaan yang dibutuhkan untuk menghentikan wabah. Ia menyerukan kepada para pendonor untuk "meningkatkan upaya" dalam melawan Ebola.

    WHO mengatakan USD54 juta atau setara Rp772 miliar dibutuhkan untuk mengatasi wabah Ebola saat ini. Aavitsland mengatakan mendeklarasikan status darurat global dapat memicu "konsekuensi yang tidak diinginkan," semisal beberapa maskapai menghentikan penerbangan atau sejumlah pemerintah menutup perbatasan.

    "Merupakan pandangan komite bahwa mendeklarasikan status darurat akan lebih banyak menimbulkan kerugian," tutur Aavitsland.

    Baca: Korban Tewas Ebola di RD Kongo Lampaui 1.000



    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id