Selundupkan 5,3 Juta Belut, Pria Inggris Didakwa 6 Pasal

    Willy Haryono - 08 Februari 2020 13:03 WIB
    Selundupkan 5,3 Juta Belut, Pria Inggris Didakwa 6 Pasal
    Sejumlah bayi belut yang hendak dilepaskan ke alam liar di Lelystad, Belanda, 21 Maret 2019. (Foto: AFP/ANP/NIELS WENSTEDT)
    London: Seorang pedagang makanan laut dinyatakan bersalah atas penyelundupan sekitar 5,3 juta bayi belut dari Eropa ke Asia Timur via Inggris. Gilbert Khoo, 66, didakwa enam pasal terkait impor ilegal di pengadilan Southwark Crown Court di London, Inggris, Jumat 7 Februari 2020.

    Terkait kasus ini, petugas perbatasan Inggris menemukan paket besar jutaan bayi belut yang tersembunyi di dalam kargo ikan beku di Bandara Heathrow London. Bayi belut itu diketahui berasal dari Spanyol.

    Paket besar bayi belut itu dijadwalkan diekspor ke Hong Kong pada 15 Februari 2017. Berbobot 200 kilogram, paket tersebut diestimasi bernilai GBP5,7 juta atau setara Rp101 miliar di pasar gelap Asia Timur. Jutaan bayi belut itu telah dikembalikan ke habitatnya oleh otoritas Inggris.

    Setelah penangkapan di bandara London, tim investigator menemukan fakta bahwa Khoo, pria asal Chessington, London, telah menyelundupan bayi belut antara tahun 2015 dan 2017.

    Selama ini Khoo mengimpor bayi belut dari beberapa negara Eropa, untuk kemudian disimpan di sebuah peternakan di Gloucestershire. Khoo kemudian mengemas ulang bayi belut itu dalam paket yang dilabelinya sebagai "ikan beku" dengan tujuan pengiriman Asia Timur.

    Agensi Kejahatan Nasional (NCA) mengestimasi bahwa selama periode 2015-2017, Khoo telah atau berusaha mengekspor 1.755 kilogram bayi belut dengan total nilai mencapai GBP53 juta atau setara Rp938 miliar.

    "Operasi yang dijalankan Khoo ini ilegal sejak dari proses awal hingga akhir. Tidak diragukan lagi motif di balik ini hanyalah uang," kata pejabat senior NCA, Ian Truby. Khoo dijadwalkan menghadiri sidang vonis pada 6 Maret mendatang.

    "Keuntungan dari penyelundupan ilegal bayi belut ke Hong Kong dan Asia Timur cukup signifikan. Kami bertekad akan terus menghentikan perdagangan hewan dilindungi di seluruh dunia," sambung dia.

    Jumlah bayi belut Eropa (Anguilla anguilla) telah merosot 90 persen dalam tiga dekade terakhir. Sejumlah pakar khawatir penyelundupan belut Eropa dapat membuat spesies tersebut punah.



    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id