PM Bulgaria Mundur setelah Kemenangan Presiden Pro Rusia

    Arpan Rahman - 14 November 2016 15:57 WIB
    PM Bulgaria Mundur setelah Kemenangan Presiden Pro Rusia
    Boyko Borisov mengundurkan diri dari jabatan PM Bulgaria, 14 November 2016. (Foto: AFP/DIMITAR DILKOFF)
    medcom.id, Sofia: Negara anggota Uni Eropa, Bulgaria, menghadapi ketidakpastian setelah Perdana Menteri berhaluan sayap kanan Boyko Borisov mengundurkan diri, Senin 14 November. 

    Mundurnya Borisov menyusul kekalahan calon presiden yang didukungnya di tangan seorang jenderal pro Rusia.

    Para kritikus khawatir kemenangan mengejutkan bisa membuat Bulgaria -- yang telah lama berada dalam ketegangan antara Moskow dan Brussels -- condong tertarik ke orbit Rusia. Tren itu telah terlihat di Eropa tengah dan timur dengan meningkatnya euroscepticism (skeptisisme ala Eropa).

    Negeri tetangga Moldova juga sudah tampak siap memilih presiden pro-Rusia, pada Minggu 13 November.

    "Hasil ini jelas menunjukkan bahwa koalisi tidak lagi memegang suara mayoritas," kata perdana menteri, yang terpilih kembali pada 2014 untuk kedua kalinya, Minggu malam lalu.

    "Saya minta maaf kepada orang-orang yang mendukung kita. Saya pikir saya melakukan hal benar," ucap Borisov seperti dilansir AFP, Senin (14/11/2016).

    Ucapan muncul tak lama setelah proyeksi menunjukkan mantan panglima angkatan udara dan seorang pemula politik, Rumen Radev, menyapu hampir 60 persen suara. Mantan calon ketua parlemen, Tsetska Tsacheva, yang dinominasikan PM Borisov, hanya memperoleh lebih dari 35 persen. Para analis politik menamakannya "bencana kekalahan".

    PM Bulgaria Mundur setelah Kemenangan Presiden Pro Rusia
    Rumen Radev. (Foto: AFP)

    "Ini adalah kemenangan bagi semua orang Bulgaria. Demokrasi sudah terpukul apatis dan ketakutan hari ini," kata Radev kepada televisi pemerintah, Minggu malam.

    Tsacheva dinilai gagal memengaruhi para pemilih yang merasa tidak puas atas kegagalan pemerintah mengatasi korupsi dan kemiskinan di negara anggota termiskin di Uni Eropa ini.

    Direktur Gallup, Parvan Simeonov, menyebutkan hasil pemilu sebagai bentuk dari "suara protes" warga.

    Kendati reformasi telah dijanjikan, korupsi dan kemiskinan tetap marak Bulgaria. Kemarahan publik juga sudah berkembang atas ribuan migran yang saat ini terdampar di Bulgaria.

    "Bulgaria membutuhkan wajah baru, seseorang yang membela kepentingan nasional bukan selalu mengatakan 'Ya' untuk Uni Eropa dan Amerika Serikat," kata pengusaha dan warga Sofia, Assen Dragov, 39, kepada AFP.

    Radev akan menduduki jabatannya pada 22 Januari hingga lima tahun ke depan. Pekerjaan pertamanya kemungkinan menyusun pemilu pendahuluan di musim semi 2017. Borisov telah menyatakan dirinya menolak membentuk pemerintahan sementara.



    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id