Reynhard Sinaga Tidak Pernah Menunjukkan Penyesalan

    Fajar Nugraha - 07 Januari 2020 11:39 WIB
    Reynhard Sinaga Tidak Pernah Menunjukkan Penyesalan
    Reynhard Sinaga didakwa tindakan pemerkosaan sebanyak 136 kali. Foto: BBC/Facebook
    Manchester: Reynhard Sinaga memenuhi pemberitaan sejak kemarin setelah divonis hukuman seumur hidup di Inggris, usai memperkosa sekitar 190 pria. Pihak kepolisian yang menangkap Reynhard menjelaskan sikap pria berusia 36 tahun itu.

    Kepolisian Manchester menjelaskan bahwa Reynhard berasal dari Indonesia dengan orangtua yang tidak menyetujui orientasi seksualnya.

    Pihak kepolisian mengatakan, “Reynhard terobsesi diri sendiri, angkuh, delusional. Itu adalah sifat-sifat yang mendefinisikan pemerkosa berantai”.

    Itu adalah menurut polisi yang menangkapnya dan hakim yang memvonisnya penjara seumur hidup, karena membius dan memperkosa 48 pria di apartemennya di pusat kota Manchester.

    "Dia seorang sosiopat," kata seorang detektif kepada Manchester Evening News, Selasa, 7 Januari 2020, setelah menghabiskan berjam-jam menanyai Reynhard dalam tahanan.

    "Selama setiap wawancara dia memberikan tidak ada komentar. Dia tidak menunjukkan penyesalan, tidak ada penyesalan, tidak ada empati, tidak ada simpati,” tegasnya.

    Sementara penyelidik senior, Inspektur Zed Ali mengatakan, sosok Reynhard sangat terawat, berbicara dengan lembut dan berpakaian rapi.

    "Jadi, jika Anda pernah mencari stereotipe pemerkosa berantai, ia tidak cocok dengan profil itu. Ini yang menurut saya membuatnya berhasil melakukan begitu banyak serangan seksual untuk jangka waktu yang lama dan berada di bawah pengawasan semua orang,” jelas Ali.

    Dilahirkan di Jambi, di Indonesia, pada 19 Februari 1983, Reynhard tumbuh dalam keluarga Katolik konservatif yang kaya di Sumatra. Keluarganya cukup kaya untuk mengirim putra mereka ke Sekolah Internasional dan kemudian ke Inggris untuk belajar.

    2007 adalah tahun dimana pertama kali lulusan arsitektur Universitas Indonesia tiba di Inggris dengan visa pelajar dan pindah ke Manchester sebagai mahasiswa Sosiologi.
    Dia kemudian memulai studi untuk gelar PhD di bidang Geografi Manusia di Universitas Leeds.

    Pada saat penangkapannya, Sinaga sedang mengerjakan tesisnya, berjudul: 'Seksualitas dan transnasionalisme sehari-hari di pria gay dan biseksual Asia Selatan di Manchester'.

    Seorang pria yang terus-menerus menghabiskan waktu untuk belajar, dia memberi tahu teman-teman bahwa dia ingin tinggal di Inggris selama mungkin untuk menghindari kembali ke Indonesia.

    Dirinya bahkan meneliti sebuah wilayah gay ternama di Manchester untuk melengkapi studinya. Sepanjang persidangan, dia mengklaim bahwa setiap korban yang diperkosanya, setuju untuk melakukan hubungan badan dengan dirinya.

    Di pengadilan Reynhard mengklaim, seluruh korban berpura-pura tidur sebagai bagian dari permainan seksnya. Itu sebabnya dia menolak semua tuduhan dari pengadilan yang dianggap menggelikan.

    Seluruh korbannya diidentifikasi heteroseksual. Sementara hanya ada satu orang yang homoseksual, itupun pelaku tetap membius dan memperkosanya.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id