Keluarga Korban Serangan Udara Arab Saudi Tuntut Keadilan

    Arpan Rahman - 17 September 2019 17:10 WIB
    Keluarga Korban Serangan Udara Arab Saudi Tuntut Keadilan
    Kehancuran di Yaman akibat perang saudara berkepanjangan. (Foto: AFP).
    London: Keluarga seorang pria yang terbunuh oleh serangan udara Arab Saudi pada pemakaman di Yaman telah meminta Kepolisian Metropolitan London untuk menyelidiki pengeboman mematikan itu. Upaya ini membuka kemungkinan para pelaku dituntut di pengadilan Inggris.

    Muhammad Ali al-Rowaishan, salah satu dari 137 warga sipil yang tewas dalam pengeboman 2016, yang menghantam upacara pemakaman ramai di aula komunitas di ibu kota Yaman, Sana'a. Setelah awalnya menyangkal bertanggung jawab atas serangan itu, Saudi akhirnya mengakui kesalahan dan meminta maaf.

    Ini salah satu kasus pertama dari jenisnya, keluarga Rowaishan sekarang berusaha menuntut orang-orang di balik serangan di pengadilan Inggris. Digunakan hukum yurisdiksi universal, berlaku untuk kejahatan internasional yang serius.

    Pengacara yang mewakili tiga anggota keluarga telah mengajukan pengaduan kepada Komando Kontra-Teror Polisi Metropolitan London (SO15) dan Kementerian Kehakiman Amerika Serikat. Jika cukup bukti untuk menangkap terdakwa, mereka akan dituntut di kedua negara.

    "Undang-undang mengizinkan kejahatan internasional serius tertentu untuk dituntut terlepas dari di mana itu terjadi, siapa pelakunya, dan apa kewarganegaraan mereka," kata Rodney Dixon QC, yang bertindak sebagai penasihat hukum anggota keluarga almarhum.

    "Ini adalah kasus yang sangat penting, mengingat ketenaran serangan itu, dan fakta bahwa otoritas Arab Saudi telah mengakui tanggung jawabnya," tambahnya, disitir dari Independent, Selasa 17 September 2019.

    Dixon mengatakan bahwa pengaduan menyebutkan beberapa tersangka secara rahasia agar diselidiki oleh polisi, dan meminta polisi mengidentifikasi orang lain yang terlibat dalam serangan udara tersebut.

    Human Rights Watch menggambarkan pengeboman itu sebagai "tidak proporsional secara tidak sah". Juga mengidentifikasi amunisi yang digunakan sebagai bom pemandu laser GBU-12 Paveway II 500-dolar buatan AS yang dijatuhkan.

    Kasus ini merupakan upaya hukum penting buat meminta koalisi pimpinan Saudi bertanggung jawab atas apa yang dicirikan oleh sejumlah kelompok hak asasi manusia sebagai pola kejahatan perang di negara itu.

    Arab Saudi ikut campur dalam perang saudara Yaman pada 2015 guna mengembalikan pemerintahan Abd Rabbu Mansour Hadi yang diakui secara internasional. Hadi digulingkan oleh pemberontak Houthi didukung Iran.

    PBB menuduh koalisi pimpinan Saudi melakukan serangan ‘meluas dan sistematis’ pada sasaran sipil. Koalisi telah mengakui menyebabkan korban sipil di masa lalu, tetapi menghubungkan kematian tersebut dengan ‘kesalahan tidak disengaja’. Seraya berdalih bahwa pihaknya berkomitmen menegakkan hukum internasional.

    Bersama dengan AS, Inggris memainkan peran utama dalam mendukung kampanye militer koalisi melawan Houthi -- yang juga dituduh melakukan kejahatan perang oleh PBB.

    Upaya penuntutan ini muncul ketika Inggris berada di bawah tekanan yang meningkat atas penjualan senjata ke kerajaan Arab Saudi.

    Pengaduan pidana diajukan atas nama paman Rowaishan, warga negara Inggris, Nabeel Gubari; saudaranya, warga negara AS Abdulla Alrowashan, dan saudara lelaki lainnya, Khalid Ali Saleh Al Ruwayshan, yang merupakan warga negara Yaman.

    Aduan tersebut berpendapat bahwa pejabat Arab Saudi dan Yaman yang bertanggung jawab atas pengeboman pada 8 Oktober 2016 harus diadili.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id