Kerugian Perang Yaman Dapat Mencapai Rp410 Triliun

    Arpan Rahman - 02 Desember 2019 16:04 WIB
    Kerugian Perang Yaman Dapat Mencapai Rp410 Triliun
    Warga menyambut kedatangan tahanan Houthi yang dibebaskan Arab Saudi di Sanaa, Yaman, 28 November 2019. (Foto: AFP/MOHAMMED HUWAIS)
    New York: Kegagalan memanfaatkan peluang langka untuk mencapai perdamaian di Yaman berpotensi memicu kerugian finansial hingga senilai USD29 miliar atau setara Rp410 triliun dalam hal bantuan kemanusiaan.

    Dalam laporan terbaru pada Senin 2 Desember 2019, Komite Penyelamatan Internasional (IRC) memperingatkan bahwa kerugian bernilai fantastis itu mungkin terjadi jika perang Yaman terus berlanjut hingga lima tahun ke depan.

    Selain kerugian finansial, berlanjutnya perang di Yaman juga berpotensi memperpanjang ancaman kelaparan parah di negara tersebut.

    Peringatan dalam laporan terbaru IRC sebagiannya ditujukan kepada Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, dua negara utama pemimpin sebuah koalisi yang memerangi pemberontak Houthi di Yaman. 

    Dua negara ini juga merupakan donor bantuan kemanusiaan yang sebagian besarnya disalurkan melalui beberapa agensi Perserikatan Bangsa-Bangsa seperti Program Makanan Dunia (WFP).

    "Prediksi suram ini adalah gambaran bahwa perang harus dibayar dengan harga yang sangat mahal, dan juga sama sekali tidak memedulikan kehidupan warga sipil," kata David Miliband, Presiden IRC yang pernah menjadi menteri luar negeri Inggris.

    "Perang di Yaman telah diperpanjang oleh dukungan militer aktif dan juga perlindungan bidang diplomatik dari Amerika Serikat, Inggris dan beberapa negara Barat lainnya," lanjutnya, disitat dari Guardian, Minggu 1 Desember 2019.

    Miliband menyinggung mengenai beberapa gambaran buruk dalam perang Yaman, termasuk soal masalah malnutrisi di kalangan anak-anak. Ia khawatir masalah malnutrisi ini belum dapat diselesaikan dalam waktu dekat.

    "Jika melihat perkembangan terkini, mungkin masalah kelaparan anak (di Yaman) baru dapat diselesaikan 20 tahun lagi," sebut Miliband.

    Saat ini, WFP terus menyalurkan bantuan makanan untuk 12 juta warga Yaman, dan juga berencana menggelar survei terbaru mengenai level kerawanan pangan di negara tersebut.

    Kembali ke laporan IRC, terdapat beberapa tanda positif diplomatik dalam upaya mengakhiri konflik di Yaman. Beberapa tanda itu termasuk proposal gencatan senjata, pembebasan tahanan dan juga perkembangan pengimplementasian Perjanjian Stockholm yang disepakati dua kubu bertikai pada Desember 2018.



    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id