PM Johnson: Tangan Soleimani Berlumuran Darah Pasukan Inggris

    Arpan Rahman - 09 Januari 2020 16:22 WIB
    PM Johnson: Tangan Soleimani Berlumuran Darah Pasukan Inggris
    Perdana Menteri Inggris Boris Johnson. Foto: AFP
    London: Perdana Menteri Inggris Boris Johnson menegaskan, Qassem Soleimani, komandan militer terkemuka Iran yang dibunuh oleh Amerika Serikat (AS) berlumuran darah pasukan Inggris di tangannya. Johnson mendesak ketegangan di kawasan Timur Tengah harus diredakan.

    Mengutarakan pertanyaan dalam sesi House of Commons mingguan pada Rabu, Johnson melontarkan dukungannya kepada Washington ketika ketegangan Amerika Serikat-Iran makin memanas.

    Pada Rabu dini hari, Iran menyerang pangkalan militer di Irak yang menampung pasukan AS sebagai balasan atas pembunuhan Soleimani. Pembunuhan terhadap Soleimani  diperintahkan oleh Presiden AS Donald Trump.

    Johnson menguraikan tidak ada personel Inggris yang terluka dalam serangan-serangan Iran, dan Inggris melakukan semampunya untuk melindungi kepentingannya di kawasan tersebut.

    “Serangan rudal Iran ke sejumlah pangkalan militer di Irak ceroboh dan berbahaya. De-eskalasi harus dilakukan mendesak,” kata Johnson.

    "Iran seharusnya tidak mengulangi serangan sembrono dan berbahaya ini tetapi sebaliknya harus mengejar de-eskalasi yang mendesak," katanya kepada Parlemen, disiarkan dari Al Jazeera, Kamis 9 Januari 2020.

    Johnson telah dikritik karena tidak mempersingkat liburannya di Karibia guna mengatasi krisis yang meningkat. Ia berkata Inggris sedang bekerja keras untuk "meredakan ketegangan ini".

    Johnson menuduh Soleimani terlibat dalam mempersenjatai gerakan Houthi yang berpihak dengan Iran dan Hizbullah.

    Dia juga mengatakan Soleimani mendukung pemerintah Presiden Suriah Bashar al-Assad dan berada di balik serangan terhadap pasukan Inggris.

    Pemimpin Partai Buruh Jeremy Corbyn bertanya kepada Johnson tentang legalitas "membunuh seseorang di wilayah asing". Sambil mengatakan pembunuhan AS terhadap Soleimani "harus dikutuk" oleh Pemerintah Inggris.

    "Masalah ketat hukum bukan untuk ditentukan oleh Inggris, karena itu bukan operasi kita. Kebanyakan orang yang masuk akal akan menerima bahwa AS memiliki hak untuk melindungi pangkalan dan personelnya," sambungnya.

    Pada Rabu pagi, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran meluncurkan lebih dari selusin rudal balistik yang menargetkan setidaknya dua pangkalan militer Irak, basis personel militer dan koalisi AS ditempatkan.

    Inggris memiliki sekitar 1.400 personel militer dan sipil Inggris di Irak sebagai bagian dari koalisi 67 negara yang memerangi kelompok militan Islamic State (ISIS), menurut Kementerian Pertahanan Inggris.

    Kontingen pasukan berkekuatan 400 orang dari dua resimen tidak terlibat dalam operasi tempur dan sebagai gantinya memberikan pelatihan dan peralatan kepada pasukan keamanan Irak dan Kurdi.

    “Staf di tingkat bawah dipindahkan keluar dari Baghdad, sementara dua kapal perang Angkatan Laut Kerajaan berada di daerah itu sebagai ‘peningkatan kesiapan’ untuk melindungi kapal-kapal Inggris di Selat Hormuz,” pungkas Johnson.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id