Pasukan Khusus Inggris Bergabung Armada AS di Teluk Persia

    Arpan Rahman - 20 Mei 2019 18:07 WIB
    Pasukan Khusus Inggris Bergabung Armada AS di Teluk Persia
    Amerika Serikat sudah mengirimkan kapal perangnya ke Teluk Persia. (Foto: AFP).
    London: Pasukan Khusus Inggris telah diterbangkan ke Timur Tengah sebagai bagian dari operasi kontingensi rahasia untuk melawan potensi serangan Iran terhadap kapal dagang Inggris yang transit di perairan sempit Teluk Persia.

    Baca juga: Trump: Iran Tak Boleh Punya Nuklir.

    Menyusul gejolak ketegangan di wilayah tersebut, Amerika Serikat mengerahkan sebuah armada tempur kapal induk dan pesawat pengebom B-52 ke Teluk dalam menjaga ancaman dari pasukan Iran.

    Salah satu diplomat paling senior AS memperingatkan Iran tidak meremehkan keputusan Presiden Trump untuk aksi militer. Di Inggris, Kementerian Luar Negeri memperingatkan warga Inggris keturunan Iran tidak melakukan perjalanan ke negara itu.

    Sekarang dua tim SBS bergabung dengan kapal tanker minyak berbendera Inggris yang transit di Teluk Persia selatan melalui Selat Hormuz, di mana mereka akan ditugaskan memantau aktivitas Iran di sekitar pulau Qesham -- pangkalan bagi kapal-kapal perang angkatan laut Iran. Kedua tim akan mengumpulkan informasi ketika kapal bergerak ke selatan melintas Selat Hormuz dan ke Teluk Oman, di mana mereka akan diterbangkan dengan helikopter Royal Navy Merlin yang beroperasi di Oman.

    Beberapa hari yang lalu, empat kapal tanker minyak diserang dengan alat peledak di selatan pelabuhan Fujairah di Teluk Oman. Lokasi itu secara teratur digunakan oleh Angkatan Laut Kerajaan Inggris sebagai tempat pemberhentian awak dan pusat logistik untuk kapal selam pembunuh pemburu bertenaga nuklir.

    Analis militer percaya serangan itu dilakukan oleh pasukan khusus Iran guna menunjukkan betapa mudahnya bagi Teheran menutup Selat Hormuz dan menghentikan ekspor minyak jika Washington terus mengancam Republik Islam Iran.

    Inggris dan AS tampaknya menunjukkan perbedaan dalam kebijakan di Timur Tengah pekan lalu ketika Pentagon secara terbuka mengoreksi pernyataan dari Mayor Jenderal Chris Ghika, komandan militer Inggris dalam misi pimpinan AS melawan Islamic State (ISIS), bahwa "tidak ada peningkatan ancaman dari pasukan yang didukung Iran di Irak dan Suriah".

    Namun sumber kemudian menjelaskan bahwa Mayjen Ghika belum diberi pengarahan tentang data intelijen baru yang bisa ia ungkapkan.

    Cengkeraman regional Teheran diduga pada keinginannya membangun "jembatan darat" menghubungkan Iran melalui Irak dan Suriah ke Lebanon agar lebih mudah mendukung pasukan Hizbullah.

    Mereka juga terus mensponsori terorisme di Eropa, termasuk rencana bom yang gagal pada konferensi para pembangkang Iran -- dihadiri oleh diplomat AS-di Paris tahun lalu. Pekan lalu komandan tertinggi AS meradang ketika "berita palsu" melaporkan bahwa AS siap mengirim 120.000 tentara buat melawan agresi Iran di kawasan.

    Beberapa ahli menyarankan keengganan atas keterlibatan asing dan konflik militer sudah mengirim sinyal ke Teheran bahwa mereka bebas mengendalikan wilayah tersebut.

    "Kecerdasan terakhir adalah nyata dan Inggris mengkhawatirkannya," kata analis regional Kyle Orton, disingkap dari laman Express, Senin 20 Mei 2019.

    Dia mengatakan isolasionisme yang dinyatakan secara terbuka oleh Presiden Trump telah menguatkan Iran.

    Tetapi diplomat AS yang berpengalaman, Duta Besar Ryan Crocker memperingatkan bahwa Iran seharusnya tidak meremehkan kesiagaan Trump untuk melancarkan serangan militer.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id