Ditolak Parlemen, PM Inggris Bersikeras Pada Batas Waktu Brexit

    Fajar Nugraha - 21 Oktober 2019 12:07 WIB
    Ditolak Parlemen, PM Inggris Bersikeras Pada Batas Waktu Brexit
    PM Inggris Boris Johnson tegaskan tidak akan tunda Brexit. Foto: AFP
    London: Pemerintah Inggris bersikeras akan meninggalkan Uni Eropa dalam 11 hari. Meskipun parlemen memaksa perdana menteri untuk meminta penundaan lagi.

    Drama tingkat tinggi pada Sabtu, para anggota parlemen di House of Commons melewatkan kesempatan untuk memutuskan revisi kesepakatan Brexit, yang telah dinegosiasikan oleh Perdana Menteri Boris Johnson dengan Uni Eropa.

    Kekalahan itu membuat Johnson di bawah tekanan yang meningkat untuk menemukan jalan keluar guna mengatasi kebuntuan tentang kapan dan bagaimana Inggris akan meninggalkan Uni Eropa. Pada referendum 2016, rakyat Inggris secara tipis memilih untuk keluar dari Uni Eropa.

    Seperti dilansir AFP, Senin, 21 Oktober 2019, Johnson dengan enggan mengirimi Presiden Dewan Eropa Donald Tusk sebuah surat yang secara hukum dikenakan padanya oleh parlemen yang meminta perpanjangan. Dirinya pun menolak untuk menandatanganinya.

    Pemimpin Partai Konservatif mengirim surat kedua yang ditandatangani dan menegaskan bahwa dia tidak mencari perpanjangan ke batas waktu Brexit, yang telah ditunda dua kali. Pihak Konservatif memperingatkan bahwa ‘perpanjangan lebih lanjut akan merusak kepentingan Inggris dan mitra Uni Eropa kami’.

    Setelah gagal mendukung kesepakatan Brexit, para anggota parlemen memicu undang-undang yang mewajibkannya untuk menulis surat kepada para pemimpin Uni Eropa yang meminta penundaan Brexit untuk menghindari risiko pasar Inggris hancur dalam waktu kurang dari dua minggu.

    Menteri Michael Gove, kepala perencanaan Brexit pemerintah, tetap bersikeras bahwa Inggris akan meninggalkan UE sesuai jadwal.

    "Ya. Kami akan keluar pada 31 Oktober. Kami memiliki sarana dan kemampuan untuk melakukannya," katanya kepada Sky News.

    Meskipun Poundsterling jatuh pada Senin, kerugian dibatasi oleh harapan bahwa negara itu akhirnya dapat menghindari jatuh dari Uni Eropa tanpa perjanjian Brexit.

    "Kita dapat mengatakan itu (pound) memegang teguh, yang menunjukkan harapan (untuk menghindari no-deal Brexit) belum hancur," Shinichiro Kadota, ahli strategi pertukaran di Barclays Securities di Jepang, mengatakan kepada AFP.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id