Macron Ingatkan Perubahan dalam Kesepakatan Nuklir Iran

    Arpan Rahman - 07 November 2019 17:09 WIB
    Macron Ingatkan Perubahan dalam Kesepakatan Nuklir Iran
    Presiden Prancis Emmanuel Macron peringatkan perubahan besar dalam kesepakatan nuklir Iran. Foto: AFP.
    Beijing: Pelanggaran Iran atas perjanjian nuklir 2015 dengan memperkaya uranium di fasilitas bawah tanah ‘menandai perubahan besar’ yang bisa menandakan kehancuran perjanjian itu.

    Presiden Prancis Emmanuel Macron mengaku sangat khawatir keputusan Iran melanjutkan pengayaan di Fordow, fasilitas nuklir yang terletak di pegunungan. Macron telah bekerja keras untuk menyelamatkan kesepakatan nuklir sejak Donald Trump menarik Amerika Serikat tahun lalu.

    "Saya pikir untuk pertama kalinya, Iran telah memutuskan secara eksplisit dan blak-blakan buat meninggalkan perjanjian JCPOA, yang menandai perubahan besar," kata Macron dalam kunjungannya ke Tiongkok, dilansir dari The Telegraph, Kamis 7 November 2019.

    Komentarnya menandai penilaian publik yang paling suram oleh seorang pemimpin Eropa tentang kemungkinan menyelamatkan perjanjian setelah penarikan AS. Ketika Iran terus meningkatkan pelanggaran perjanjian tersebut.

    Sementara itu, sebuah laporan baru mengklaim Iran menjadi kekuatan dominan ketika muncul untuk berperang di Timur Tengah sebagai hasil dari ‘jaringan pengaruh’ yang telah dibangunnya di seluruh kawasan.

    Macron berbicara tak lama setelah Iran mulai menyuntikkan gas uranium ke 1.044 sentrifugal di Fordow, sebuah fasilitas yang disembunyikan Iran dari dunia hingga 2009. Sejak lama fasilitas itu dikhawatirkan para pejabat Barat dan Israel dapat digunakan untuk mengembangkan senjata nuklir.

    Perjanjian nuklir 2015 melarang pengayaan uranium di Fordow dan Hassan Rouhani, presiden Iran mengakui sensitivitas situs ketika ia mengumumkan langkah awal pekan ini.

    Rouhani bersikeras bahwa langkah itu dapat dibalikkan. Ia katakan Iran akan kembali sepenuhnya mematuhi perjanjian jika negara-negara Eropa menemukan jalan di sekitar sanksi AS demi memberi manfaat ekonomi yang dijanjikan Iran pada 2015.

    Pembukaan kembali Fordow terjadi beberapa hari setelah Iran mengumumkan akan menggunakan sentrifugal baru canggih yang dapat memperkaya uranium lebih cepat.

    Tetapi tidak ada langkah yang membawa Iran lebih cepat secara signifikan untuk mendapatkan senjata nuklir. Senjata akan membutuhkan uranium yang diperkaya pada 90 persen, sedangkan Iran saat ini memperkaya sekitar lima persen.

    Iran menegaskan tidak memiliki niat mengembangkan senjata nuklir. Pelanggaran terbaru sudah membuat khawatir negara-negara Eropa dan Israel.

    Benjamin Netanyahu, perdana menteri Israel, mengulangi peringatannya pekan ini akan mengambil tindakan militer guna menghentikan Iran menciptakan bom.

    "Ini bukan hanya untuk keamanan kita dan masa depan kita; ini untuk masa depan Timur Tengah dan dunia," katanya.

    Inspektur IAEA ditahan


    Di tengah meningkatnya ketegangan, diketahui Iran secara singkat menahan seorang inspektur Badan Energi Atom Internasional (IAEA) pekan lalu dan menyita dokumen perjalanannya, peristiwa pertama semacam itu sejak perjanjian nuklir.

    Iran mengonfirmasi sudah menghentikan inspektur memasuki situs nuklir Natanz karena dicurigai membawa ‘bahan mencurigakan’.

    Iran diyakini telah mulai secara diam-diam membangun fasilitas Fordow pada awal 2000-an, tetapi baru diketahui dunia ketika Barack Obama mengeksposnya pada 2009 dan menuduh Iran secara diam-diam mengerjakan program senjata.

    Basis itu berada sekitar 80 meter di bawah tanah, sehingga sulit dihancurkan dengan serangan udara, dan dilindungi oleh baterai anti-pesawat. Israel nyaris mengebom situs itu pada 2011 tetapi akhirnya memutuskan tidak melakukan.

    Jaringan aliansi yang dibangun Iran dengan sejumlah kelompok teror seperti Hizbullah di Lebanon, serta milisi Syiah pro-Iran di Irak, berarti keseimbangan kekuasaan di Timur Tengah saat ini menguntungkan Iran, menurut International Institute for Strategic Studies (IISS), organ penelitian yang bermarkas di London.

    Selain itu, kemampuan Iran untuk bertempur dan memenangkan perang di Timur Tengah tanpa menggunakan kekuatan militer konvensional telah berkembang karena belum ada respons internasional yang efektif terhadap kegiatan Iran di wilayah tersebut.

    Menurut laporan terbaru IISS, "Jaringan Pengaruh Iran di Timur Tengah" yang diterbitkan pada Kamis, sementara AS dan sekutunya masih mempertahankan keunggulan militer atas Iran dalam hal kekuatan konvensional, Teheran terbukti lebih efektif dalam mengibas perang dalam apa yang disebutnya ‘Zona Kelabu’ konflik.

    Ini berarti Iran dapat menghindari risiko konfrontasi tradisional ‘negara-ke-negara’, yang kemungkinan akan kalah.

    Alih-alih, dengan membangun apa yang disebut oleh laporan itu sebagai ‘jaringan pengaruh’ melalui proksi di seluruh kawasan, Teheran berhasil mendapatkan keuntungan yang berbeda dari para pesaing di kawasan itu, seperti Arab Saudi.

    "Iran bertempur dan memenangkan perang dengan 'berperang di antara rakyat', bukan perang antarnegara," laporan itu menyimpulkan.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id