Prancis Tegaskan Awasi Situasi HAM di Kashmir

    Medcom - 23 Agustus 2019 17:12 WIB
    Prancis Tegaskan Awasi Situasi HAM di Kashmir
    PM India Narendra Modi dan Presiden Prancis Emanuel Macron. Foto: AFP.
    Chantilly: Presiden Prancis Emmanuel Macron melakukan komunikasi dengan Perdana Menteri India Narendra Modi mengenai ketegangan di Kashmir.  Dia mengatakan Prancis akan tetap memerhatikan hak-hak warga yang tinggal di kedua sisi garis gencatan senjata.

    Ketika ketegangan melonjak di titik pertemuan, Macron mengatakan dia juga akan melakukan pembicaraan serupa dengan PM Pakistan Imran Khan pada beberapa hari mendatang. Pernyataannya itu disampaikan setelah pembicaraan dengan PM India di Istana di Chantilly, tepat di Paris Utara.

    “Adalah tanggung jawab India dan Pakistan untuk menghindari kemunduran yang dapat menyebabkan eskalasi," ujar Macron untuk menyelesaikan masalah secara bilateral, seperti dikutip AFP, Jumat, 23 Agustus 2019.

    “Prancis akan tetap mengawasi untuk memastikan kepentingan dan hak-hak penduduk sipil bagi kedua kubu,” imbuhnya.

    Langkah India untuk mencabut status khusus Kashmir membuat marah banyak warga dan memicu ketegangan dengan Pakistan. Klaim wilayah itu dapat meningkatkan kekhawatiran seluruh dunia atas maraknya kekerasan antara kedua kekuatan bersenjata nuklir.

    “Kami prihatin dengan besarnya pasukan yang dibawa untuk menegakkan pembatasan dan t peningkatan dalam aksi penangkapan terhadap tokoh-tokoh politik, jurnalis, aktivis hak asasi manusia (HAM) dan pedemo,” ungkap pakar HAM AS.

    India membenci adanya campur tangan pihak luar di Kashmir dan sekutu-sekutu Barat. Setidaknya ini untuk menghindari adanya sengketa posisi publik dalam perselisihan itu, meskipun ada dugaan pelanggaran HAM di sana.

    “Dalam menindaklanjuti perang melawan radikalisasi, India telah mendapat dukungan penuh dalam memerangi terorisme lintas perbatasan,” tegas Modi.

    “Kami menghargai kerja sama pertahanan sebagai pilar penting hubungan dengan Prancis. Sebagai gantinya, India akan menerima pengiriman jet tempur Perancis yang pertama bulan depan,” ungkap Modi.

    Tiga tahun lalu, India menandatangani kesepakatan multi-miliar dolar untuk membeli 36 pesawat tempur Rafale dari Prancis dalam perjanjian yang diselesaikan saat kunjungan pertama Modi ke Paris pada 2015.

    Pertemuan itu berlangsung selama dua hari sebelum Macron menjamu para pemimpin dunia di KTT Kelompok Tujuh (G7) akhir pekan ini di penginapan Biarritz. Pemimpin itu  yakni Presiden AS Donald Trump, Konselor Jerman Angela Merkel Jerman, dan PM baru Inggris, Boris Johnson.

    Modi juga akan menghadiri KTT selama tiga hari, yang dimulai pada hari Sabtu. Pada 5 Agustus, pemerintah nasionalis Hindu Modi membatalkan otonomi Kashmir yang dikuasai India. Wilayah yang bermayoritas Muslim telah menikmati status khusus dalam konstitusi India sejak kemerdekaan diperoleh Inggris pada tahun 1947.


    Penulis: Rifqi Akbar.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id