Jaksa Agung Inggris Inginkan Reynhard Sinaga Tidak Bisa Bebas

    Fajar Nugraha - 17 Januari 2020 05:09 WIB
    Jaksa Agung Inggris Inginkan Reynhard Sinaga Tidak Bisa Bebas
    Reynhard Sinaga divonis penjara seumur hidup oleh Pengadilan Manchester, Inggris. Foto: BBC/Facebook
    London: Jaksa Agung Inggris pada Kamis 16 Januari mengajukan banding terhadap hukuman penjara minimal 30 tahun yang dijatuhkan kepada Reynhard Sinaga. WNI yang memperkosa ratusan pria itu dianggap diberikan hukuman yang terlalu lunak.

    Geoffrey Cox meminta Pengadilan Banding untuk mempertimbangkan dijatuhkan hukuman ‘tatanan seumur hidup’ pada Reynhard Sinaga. Sehingga WNI berusia 36 tahun itu tidak akan pernah memenuhi syarat untuk dibebaskan dari penjara.

    Reynhard dihukum karena melakukan total 159 pelanggaran, termasuk 136 perkosaan dan delapan percobaan perkosaan. Dakwaan itu dijatuhkan pada empat persidangan terpisah yang dimulai pada Juni 2018 dan berakhir Desember lalu.

    Seorang hakim di Manchester menjatuhkan vonis bahwa Reynhard akan menjalani hukuman setidaknya 30 tahun di penjara sebagai bagian dari hukuman seumur hidup. Vonis ini adalah imbas tindak kejahatannya yang membius dan menyerang secara seksual para pria incarannya.

    Polisi yakin dia mungkin telah menyerang sebanyak 195 orang setelah memancing korban, terutama pria heteroseksual pada malam-malam di pusat kota Manchester ke flatnya.

    "Setelah mempertimbangkan dengan seksama rincian kasus ini, saya telah memutuskan untuk merujuk hukuman itu ke Pengadilan Banding," kata Cox dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip AFP, Jumat, 17 Januari 2020.

    “(Reynhard) Sinaga melakukan sejumlah serangan yang mengerikan, selama periode waktu yang lama menyebabkan rasa sakit yang substansial dan penderitaan psikologis bagi para korbannya," tambahnya.

    "Sekarang pengadilan memutuskan apakah akan menambah hukuman,” tegasnya.

    Jaksa Agung memiliki kekuatan untuk mengajukan banding atas hukuman tertentu yang dijatuhkan oleh hakim pengadilan daerah di Inggris dan Wales jika mereka tampaknya hukuman ‘terlalu lunak’.

    Apa yang disebut perintah seumur hidup menyebabkan pelaku tidak pernah dibebaskan dari penjara dan biasanya dibatasi pada kasus pembunuhan paling serius.

    Ketika melakukan aksinya, Reynhard diduga menggunakan obat penenang untuk membuat korbannya tidak sadar sebelum merekam serangan seksual. Korban kebanyakan tidak tahu apa-apa tentang serangan itu.

    Dia ditangkap pada 2017 setelah seorang korban yang menyelamatkan diri berhasil mengambil ponselnya dan membawanya ke polisi. Detektif pun menemukan rekaman dan foto kejahatannya.

    Wakil kepala penuntut pengadilan daerah Inggris, Ian Rushton, menyebut Reynhard "pemerkosa paling banyak dalam sejarah hukum Inggris". 


     
     



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id