Gelombang Panas di Prancis Tewaskan 1.500 Orang

    Arpan Rahman - 09 September 2019 14:00 WIB
    Gelombang Panas di Prancis Tewaskan 1.500 Orang
    Turis menggunakan payung di tengah terik matahari di Paris, Prancis, 23 Juli 2019. (Foto: AFP/PHILIPPE LOPEZ)
    Paris: Dua gelombang panas yang melanda Prancis sepanjang musim kemarau tahun ini telah menewaskan lebih dari 1.500 orang. Kabar terbaru disampaikan Menteri Kesehatan Prancis Agnes Buzyn.

    Total kematian tahun ini jauh lebih rendah dari gelombang panas di tahun 2003, yang menewaskan sekitar 15 ribu orang pada bulan Agustus.

    "Kami mencatat ada 1.500 kematian dalam beberapa bulan terakhir. Angkanya 10 kali lebih rendah dibanding gelombang panas 2003," kata Buzy kepada radio Prancis, dikutip dari Guardian, Minggu 8 September 2019.

    Gelombang panas di Prancis tahun ini terjadi di bulan Juni dan Juli, dengan rekor temperatur mencapai 46 derajat Celcius di wilayah selatan pada tanggal 28 Juni.

    Periode gelombang panas pada 2003 mencappai 20 hari, sementara tahun ini 18 untuk dua peristiwa terpisah. Gelombang panas kedua tahun ini melanda area yang lebih besar dari beberapa peristiwa sebelumnya.

    Buzyn menilai langkah preventif yang dilakukan Pemerintah Prancis telah berhasil menekan angka rata-rata kematian tahun ini, sehingga jauh di bawah total pada 2003.

    Sekitar 16 tahun lalu, gelombang panas mematikan melanda Prancis. Area terparah dalam musibah tersebut adalah Paris serta beberapa wilayah di Prancis bagian pusat.

    Selain Prancis, gelombang panas tahun ini juga melanda beberapa negara lainnya di Eropa. Di Inggris, suhu sempat tercatat berada di angka 38,7 derajat Celcius, dan termasuk yang tertinggi dalam sejarah negara tersebut.

    Sementara di Belgia, suhu sempat mencapai 41,8 derajat Celcius pada 25 Juli. Di Luksemburg, suhu udara mencapai 40,8 derajat Celcius yang dinyatakan telah memecahkan rekor tahun 2003.

    Catatan temperatur sejak akhir abad ke-19 memperlihatkan bahwa rata-rata suhu udara di Bumi telah meningkat sekitar 1 derajat sejak dimulainya era industrialisasi.
     
    Sebuah institut iklim di Postdam, Jerman, menyebutkan lima musim panas terpanas di Eropa sejak tahun 1500, semuanya terjadi di abad ke-21.
     
    Para ilmuwan khawatir meningkatnya suhu Bumi terkait penggunaan bahan bakar fosil memiliki implikasi serius terhadap stabilitas planet ini.




    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id