Putin-Erdogan Mulai Pembahasan Mengenai Serangan ke Kurdi

    Fajar Nugraha - 22 Oktober 2019 19:31 WIB
    Putin-Erdogan Mulai Pembahasan Mengenai Serangan ke Kurdi
    Presiden Recep Tayyip Erdogan lakukan pertemuan dengan Vladimir Putin bahas penyerangan Kurdi. Foto: AFP
    Moskow: Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memulai pertemuan dan membahas mengenai situasi di Suriah utara.

    “Situasi saat ini sangat gawat,” ujar Putin kepada Erdogan pada awal pembicaraan di Kota Sochi.

    “Saya berharap ada hasil balik yang dicapai Rusia dan Turki untuk memecahkan permasalahan serius ini,” tegas Putin, seperti dikutip AFP, Selasa, 22 Oktober 2019.

    Sebelumnya, Erdogan mengancam untuk memulai serangan militer kembali di Suriah yang ditujukan kepada kelompok Kurdi. Mereka mendesak kelompok Kurdi untuk menarik penuh pasukannya atau menghadapi serangan besar.

    “Kami berpeluang untuk membahas langkah untuk mengakhiri kehadiran para milisi Kurdi di wilayah yang dikuasi pemerintah,” sebut Erdogan, sesaat sebelum berangkat ke Rusia.


    Peran Rusia

    Rusia dan Turki telah muncul sebagai pemain utama asing di konflik Suriah. Posisi Rusia pun makin menguat setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan akan menarik pasukannya dari utara Suriah.

    Pengumuman Trump itu membuka jalan bagi Turki untuk melancarkan serangan yang dimulai pada 9 Oktober melawan milisi Kurdi Suriah, YPG. Selama ini, Turki menganggap milisi itu sebagai teroris yang terafiliasi dengan Partai Pekerja Kurdi (PKK).

    Pekan lalu, pasukan Rusia sudah bergerak untuk menggantikan pasukan AS untuk memberikan dukungan kepada militer Suriah. Militer Suriah pun sudah dimintai bantuannya oleh pihak Kurdi.

    “Yang paling penting bagi kami saat ini adalah meraih stabilitas jangka panjang di Suriah dan kawasan. Kami yakin hal tersebut hanya bisa dicapai dengan persatuan Suriah,” tegas penasihat kebijakan luar negeri Presiden Putin, Yuri Ushakov.

    Erdogan pun mengaku tidak masalah dengan kembalinya Pemerintah Suriah di wilayah utara. Dia lebih mementingkan bisa mendorong mundur pihak Kurdi hingga 32 meter dari ‘zona aman’ yang akan dibentuknya. Zona itu akan ditinggali oleh pengungsi Suriah yang selama ini bermukim di wilayah Turki.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id