Trump Mengaku Pernah Berencana Bunuh Presiden Suriah

    Willy Haryono - 16 September 2020 11:40 WIB
    Trump Mengaku Pernah Berencana Bunuh Presiden Suriah
    Presiden AS Donald Trump (kiri) dan Presiden Suriah Bashar al-Assad. (AFP/POOL/Getty)
    Washington: Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku pernah berencana membunuh Presiden Suriah Bashar al-Assad di tahun 2017. Namun rencana tersebut ditolak James Mattis, Menteri Pertahanan AS sebelum era Mark Esper.

    "Saya lebih memilih menghabisi dia (Assad). Semua persiapan sudah selesai saat itu," kata Trump dalam program media Fox & Friends.

    "Tapi Mattis tidak mau melakukannya. Mattis adalah seorang jenderal yang terlalu dinilai berlebihan," sambungnya, dilansir dari laman Arutz Sheva, Rabu 16 September 2020.

    Trump mengaku tidak menyesal telah membatalkan rencana membunuh Assad. Ia menilai Assad mungkin akan tetap hidup walaupun rencana pembunuhan itu dieksekusi.

    Komentar terbaru Trump mengonfirmasi laporan pada 2018 bahwa Trump berencana membunuh Assad. Namun kala itu, Trump membantahnya.

    Sementara itu dalam buku karangan jurnalis Bob Woodward berjudul "Fear," Trump disebut pernah mendesak Mattis untuk membunuh Assad. Desakan disampaikan Trump usai terjadinya serangan kimia terhadap warga sipil di Suriah pada April 2017.

    Mattis dilaporkan menerima permintaan presiden dalam sambungan telepon. Namun setelah telepon ditutup, Mattis memerintahkan para ajudannya bahwa AS akan mengambil langkah "yang lebih terukur" terkait Suriah dan Assad.

    Dalam wawancara pada Selasa kemarin, Trump terus mengkritik dan menyerang Mattis, walau ia adalah tokoh yang ditunjuk langsung Trump sebagai menhan di awal kepemimpinannya.

    "Ia adalah jenderal yang buruk. Ia adalah pemimpin yang buruk, dan ia tidak melakukan tugasnya dengan baik terkait ISIS," sebut Trump, merujuk pada kelompok militan Islamic State.

    Pewawancara, Brian Kilmeade, memotong pernyataan Trump dan menyebut Mattis sebagai seorang warga AS yang telah berjasa bagi negara. "Saya tidak bilang dia adalah warga AS yang baik atau buruk. Saya menyebut dia hanya tidak melakukan tugasnya dengan baik," tutur Trump.

    Mattis mengundurkan diri pada Desember 2018 di tengah berbagai perseteruan pandangan dengan Trump, termasuk penarikan semua pasukan AS dari Suriah. Beberapa bulan sebelumnya, Trump menyiratkan bahwa Mattis "mungkin" akan mengundurkan diri. Trump bahkan pernah menyebut Mattis sebagai sosok yang "terlihat seperti (politikus Partai) Demokrat."


    (WIL)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id