Macron dan Merkel Geram atas Dugaan Aktivitas Mata-Mata AS-Denmark

    Willy Haryono - 01 Juni 2021 09:19 WIB
    Macron dan Merkel Geram atas Dugaan Aktivitas Mata-Mata AS-Denmark
    Kanselir Jerman Angela Merkel (kanan) dalam sebuah konferensi pers virtual bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron di Berlin pada 31 Mei 2021. (Michael Sohn / POOL / AFP)



    Paris: Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman Angela Merkel geram atas munculnya laporan yang menyebutkan bahwa Amerika Serikat bersama Denmark telah memata-matai jajaran politisi Eropa.

    Dalam laporan radio DR, disebutkan bahwa Layanan Intelijen Pertahanan Denmark (FE) berkolaborasi dengan Agensi Keamanan Nasional AS (NSA) dalam mengumpulkan informasi para petinggi Eropa dari 2012 hingga 2014.

     



    Menteri Pertahanan Denmark, Trine Bramsen, tidak mengonfirmasi dan juga tak membantah laporan tersebut. Namun ia mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa "memata-matai sekutu dekat secara sistemik merupakan sesuatu yang tidak dapat diterima."

    Bramsen belum menjadi menhan dalam periode 2012-2014.

    "Hal ini tidak dapat diterima di kalangan sekutu, apalagi antara sekutu dan mitra-mitra Eropa," kata Macron usai berbicara dengan Merkel, dilansir dari laman BBC pada Selasa, 1 Juni 2021.

    Merkel sepakat dengan pernyataan Macron, namun ia juga merasa cukup puas dengan kecaman dari Bramsen.

    Selain Prancis dan Jerman, Swedia beserta Norwegia juga meminta penjelasan AS dan Denmark atas kemunculan laporan tersebut.

    Baca:  Intelijen Denmark Dituduh Bantu AS Memata-matai Politisi Eropa

    Perdana Menteri Norwegia Erna Solberg mengaku tak habis pikir mengapa negara-negara yang menjalin hubungan dan kerja sama erat "merasa perlu saling memata-matai."

    Laporan DR telah bermunculan di berbagai kantor berita Eropa. Dalam laporan itu disebutkan bahwa NSA memiliki akses terhadap pesan teks dan percakapan telepon sejumlah politisi Eropa. NSA disebut melakukan hal ini dengan memasuki jaringan kabel internet Denmark lewat bantuan FE.
     
    Kerja sama tersebut, dilabeli sebagai "Operation Dunhammer" dalam laporan DR, memungkinkan NSA mengumpulkan data dengan menggunakan nomor telepon politisi sebagai parameter pencarian.

    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id