PM Inggris Membaik, Keluar dari Perawatan Intensif

    Fajar Nugraha - 10 April 2020 06:50 WIB
    PM Inggris Membaik, Keluar dari Perawatan Intensif
    PM Inggris Boris Johnson membaik setelah keluar dari ICU. Foto: AFP.
    London: Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dipindahkan dari perawatan intensif (ICU) Kamis di rumah sakit London, di mana ia dirawat karena virus korona. Di saat bersamaan Pemerintah Inggris berpeluang untuk memperpanjang lockdown pastikan hingga beberapa minggu ke depan.

    Baca: PM Inggris Membaik Tetapi Masih dalam Perawatan Intensif.

    Johnson telah berada di ICU di Rumah Sakit St. Thomas sejak Senin setelah gejala virus korona covid-19 memburuk.

    “Dia dipindahkan malam ini dari perawatan intensif kembali ke bangsal, di mana dia akan menerima pemantauan ketat selama fase awal pemulihannya,” ujar pernyataan pihak kantor Perdana Menteri, seperti dikutip AFP, Jumat, 10 April 2020.

    “Johnson dalam semangat yang sangat baik,” imbuh pernyataan itu.

    Pemimpin Inggris itu dites positif terkena virus korona baru dua minggu lalu dan pada awalnya hanya memiliki gejala ‘ringan’. Dia dirawat di rumah sakit Minggu dan dibawa ke ICU sehari kemudian. Johnson diberikan oksigen tanpa ditempatkan ke ventilator.

    Kondisinya tampaknya membaik selama beberapa hari terakhir. Sebelumnya Kamis 9 April 2020, Menteri Luar Negeri Dominic Raab, yang menjadi wakil perdana menteri selama pertemuan-pertemuan penting, mengatakan Johnson "membuat langkah-langkah positif ke depan."

    Berita tentang kondisi Johnson yang membaik disambut di seluruh spektrum politik Inggris dan oleh Presiden AS Donald Trump menulis Tweet: “Berita Besar: Perdana Menteri Boris Johnson baru saja pindah dari Intensive Care. Cepat sembuh Boris !!! ”

    Ketika Johnson pulih, pemerintah mengatakan kepada warga Inggris sebelumnya bahwa terlalu dini untuk meredakan pembatasan kegiatan publik. Awalnya pembatasan itu diberlakukan pada 23 Maret untuk mencoba memperlambat penyebaran virus.

    Pembatasan aslinya adalah selama tiga minggu, periode yang berakhir Senin. Tetapi setelah memimpin pertemuan komite krisis pemerintah, COBRA, Raab mengatakan tidak ada keputusan untuk mencabut perintah tinggal di rumah oleh pemerintah. ”Penutupan bisnis akan dilakukan sampai bukti dengan jelas menunjukkan bahwa kita telah bergerak melampaui puncak wabah,” tegas Raab.

    Raab mengatakan, “Kami mulai melihat dampak dari pengorbanan yang kami semua buat. Tetapi kematiannya masih meningkat dan kami belum mencapai puncak virus.”

    Dia mengatakan pemerintah dan para ahli ilmiah akan menilai bukti lagi minggu depan. "Kita tidak harus memberi virus korona kesempatan kedua untuk membunuh lebih banyak orang dan melukai negara kita," kata Raab pada konferensi pers harian pemerintah.

    Bagi kebanyakan orang, virus korona covid-19 menyebabkan gejala ringan hingga sedang seperti demam dan batuk. Tetapi bagi sebagian orang, terutama orang dewasa yang lebih tua dan orang sakit, hal itu dapat menyebabkan pneumonia dan dalam beberapa kasus kematian.

    Hampir 8.000 orang dengan virus korona telah meninggal di rumah sakit Inggris, menurut angka pemerintah. Sementara jumlah kasus baru yang dikonfirmasi telah mulai meningkat, kematian telah mendekati puncak yang terlihat di Italia dan Spanyol, dua negara dengan jumlah kematian terbesar.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id