WHO: Remdevisir Tak Menekan Angka Kematian Pasien Covid-19

    Fajar Nugraha - 16 Oktober 2020 10:50 WIB
    WHO: Remdevisir Tak Menekan Angka Kematian Pasien Covid-19
    WHO nyatakan Remdevisir tidak mengurangi angka kematian pada pasien covid-19. Foto: AFP
    New York: Obat Remdesivir dari Gilead Sciences memiliki sedikit atau tidak ada efek pada pasien covid-19 ataupun peluang untuk bertahan hidup. Hal ini didapatkan dari  sebuah uji klinis oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

    Obat antivirus, yang pertama digunakan sebagai pengobatan untuk covid-19, adalah salah satu obat yang baru-baru ini digunakan untuk mengobati infeksi virus korona Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

    Hasilnya adalah dari uji coba ‘Solidaritas’ WHO, yang mengevaluasi efek dari empat rejimen obat yang potensial, termasuk remdesivir, hydroxychloroquine, kombinasi obat anti-HIV lopinavir /ritonavir dan interferon. Uji coba dilakukan pada 11.266 pasien dewasa di lebih dari 30 negara.

    “Studi tersebut menemukan rejimen obat itu tampaknya memiliki sedikit atau tidak berpengaruh pada kematian 28 hari atau lamanya perawatan di rumah sakit. Khususnya di antara pasien yang dirawat di rumah sakit dengan covid-19,” pernyataan WHO, seperti dikutip AFP, Jumat 16 Oktober 2020.

    Hasil uji coba belum ditinjau dan diunggah di server pracetak medRxiv. Awal bulan ini, data dari penelitian remdesivir oleh Gilead di AS menunjukkan pengobatan memangkas waktu pemulihan untuk pasien covid-19 sebanyak lima hari, dibandingkan dengan plasebo dalam percobaan yang terdiri dari 1.062 pasien.

    “Data yang muncul (WHO) tampak tidak konsisten. Dengan bukti yang lebih kuat dari beberapa penelitian acak dan terkontrol yang diterbitkan dalam jurnal peer-review yang memvalidasi manfaat klinis remdesivir,” pernyataan Gilead.

    "Kami prihatin data dari uji coba global label terbuka ini belum melalui tinjauan ketat yang diperlukan untuk memungkinkan diskusi ilmiah yang konstruktif. Terutama mengingat keterbatasan desain uji coba,” imbuhnya.

    Kepala ilmuwan WHO Soumya Swaminathan mengatakan pada Rabu bahwa selama penelitian, hydroxychloroquine dan lopinavir / ritonavir dihentikan pada Juni, setelah terbukti tidak efektif. Tetapi uji coba lain berlanjut di lebih dari 500 rumah sakit dan 30 negara.

    "Kami sedang mencari apa selanjutnya. Kami sedang melihat pada anti-body monoklonal. Kami melihat pada imunomodulator dan beberapa obat antivirus baru yang telah dikembangkan dalam beberapa bulan terakhir," kata Swaminathan.

    Remdesivir menerima izin penggunaan darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan AS pada 1 Mei. Sejak itu telah diizinkan untuk digunakan di beberapa negara.

    (FJR)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id