'Pengantin ISIS' Sesumbar Siap Hadapi Tuduhan Teror di Inggris

    Fajar Nugraha - 15 September 2021 19:07 WIB
    Pengantin ISIS Sesumbar Siap Hadapi Tuduhan Teror di Inggris
    Shamima Begum berusia 15 tahun saat menikah dengan anggota ISIS di Suriah. Foto: AFP



    London: Seorang perempuan yang kehilangan kewarganegaraan Inggrisnya setelah bergabung dengan kelompok teroris Islamic State (ISIS) mengatakan, akan siap untuk kembali menghadapi tuduhan teror. Dirinya menegaskan dapat membuktikan bahwa dia tidak bersalah.

    Shamima Begum berusia 15 tahun ketika dia melakukan perjalanan dari rumahnya di London, Inggris pada 2015 dengan dua teman sekolahnya ke Suriah. Di negara yang terkoyak akibat perang itu, Begum menikah dengan seorang anggota ISIS dan memiliki tiga anak.

     



    Dijuluki "pengantin ISIS”, dia dilucuti dari kewarganegaraan Inggrisnya setelah kemarahan media ketika dilacak oleh wartawan ke sebuah kamp pengungsian pada 2019 dan membela para teroris.

    Mahkamah Agung awal tahun ini menolak izinnya untuk kembali ke Inggris dengan alasan keamanan publik. Penolakan itu menentang keputusan dari Pemerintah Negeri Ratu Elizabeth.

    Namun perempuan yang memiliki darah Bangladesh ini membantah terlibat langsung dalam persiapan aksi teror.

    "Saya bersedia pergi ke pengadilan dan menghadapi orang-orang yang membuat klaim ini dan membantah klaim ini, karena saya tahu tidak melakukan apa pun di ISIS selain menjadi ibu dan istri," kata Begum, seperti dikutip AFP, Rabu 15 September 2021.

    "Klaim ini dibuat untuk membuat saya terlihat lebih buruk karena pemerintah tidak memiliki apa-apa pada saya. Tidak ada bukti karena tidak pernah terjadi apa-apa," katanya kepada ITV.

    Begum yang saat ini berusia 22 tahun mengatakan, satu-satunya kejahatan yang dia lakukan adalah "cukup bodoh untuk bergabung dengan ISIS”.  Dirinya meminta pengampunan dari semua orang yang telah kehilangan orang-orang terkasih karena para ekstremis.

    "Saya sangat menyesal jika saya pernah menyinggung siapa pun dengan datang ke sini, jika pernah menyinggung siapa pun dengan hal-hal yang saya katakan," kata Begum, yang mengenakan topi bisbol dan atasan rompi, dari Suriah.

    Pengacara Begum, menuduh Inggris melakukan rasisme dalam perlakuannya terhadapnya, menuduh pemerintah menjadikannya kambing hitam.

    Mereka mengatakan dia adalah "seorang anak yang diperdagangkan dan tinggal di Suriah untuk tujuan eksploitasi seksual dan pernikahan paksa" dan tindakan pemerintah membuatnya tidak memiliki kewarganegaraan.

    Menteri Luar Negeri Bangladesh mengatakan dia tidak akan mempertimbangkan untuk memberikan kewarganegaraannya.

    Sekitar 900 orang diperkirakan telah melakukan perjalanan dari Inggris ke Suriah dan Irak untuk bergabung dengan ISIS, menciptakan masalah hukum bagi pihak berwenang Inggris saat konflik berakhir. Sebanyak 150 orang diyakini telah dicabut kewarganegaraannya.

    Begum, yang ketiga anaknya dikandung setelah kedatangannya di Suriah semuanya meninggal, pertama kali terlihat pada 2019 mengenakan jilbab hitam dan mengatakan dia tidak menyesal bepergian ke Suriah. Tapi dia kemudian tampak dalam pakaian kasual dan menyatakan penyesalan atas tindakannya, dan simpati untuk korban ISIS.

    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id