comscore

Macron Bertekad Membuat 'Jengkel' Warga Prancis yang Menolak Divaksinasi

Willy Haryono - 05 Januari 2022 18:36 WIB
Macron Bertekad Membuat Jengkel Warga Prancis yang Menolak Divaksinasi
Presiden Prancis Emmanuel Macron. (AFP)
Paris: Presiden Prancis Emmanuel Macron memperingatkan bahwa dirinya akan terus mempersulit kehidupan warga yang hingga kini masih menolak mengikuti vaksinasi Covid-19. Menurutnya, langkah ini diperlukan untuk memberikan pelajaran kepada mereka yang enggan divaksinasi.

"Saya sangat ingin membuat mereka semua jengkel, dan kami akan terus melakukan hal ini hingga akhir," ujar Macron kepada surat kabar Le Parisien, dilansir dari BBC, Rabu, 5 Januari 2022.

 



Sejumlah rival politik Macron menilai peringatan semacam itu tak pantas diucapkan oleh seorang presiden. Pernyataan Macron disampaikan di saat kebijakan "paspor vaksin" Prancis terhambat oleh persatuan kelompok oposisi yang menentang rencana tersebut.

Perdebatan di parlemen Prancis atas rancangan undang-undang paspor vaksin terhenti pada Selasa malam oleh penentangan oposisi. RUU itu seharusnya bisa disahkan pekan ini, namun terus mendapat kecaman dari kelompok anti-vaksin dan sejumlah politisi.

Baca:  Parlemen Prancis Setujui UU Paspor Vaksin di Tengah Protes Masyarakat

Dalam sebuah wawancara dengan Le Parisien pada Selasa kemarin, Macron mengaku tidak akan pernah "memaksakan vaksinasi" kepada warga. Ia hanya ingin berbagai pembatasan yang ketat pada akhirnya membuat mereka bersedia divaksinasi.

"Saya tidak akan menjebloskan (warga yang belum divaksinasi) ke penjara," tegas Macron. "Kami hanya akan mengatakan bahwa mulai 15 Januari, kalian tidak akan bisa lagi pergi ke restoran, tidak bisa lagi minum kopi di kafe, menyaksikan pertunjukan di teater, atau menonton film di bioskop," ungkapnya.

Bahasa yang digunakan Macron dalam tekadnya membuat "jengkel" warga yang belum divaksinasi dianggap kasar dalam Bahasa Prancis. Hal ini memicu penentangan keras di kubu oposisi.

"Tidak ada darurat kesehatan yang membenarkan ucapan seperti itu," sebut Bruno Retailleau, pemimpin Senat sayap kanan Prancis.

"Emmanuel Macron pernah berkata ingin belajar mencintai masyarakat Prancis, tapi kelihatannya ia justru membuat mereka marah," sambungnya.

Pemimpin sayap kanan Prancis, Marine Le Pen, juga melontarkan kritik via Twitter. "Seorang presiden tidak seharusnya berkata seperti itu. Emmanuel Macron tidak pantas menjadi presiden," tulisnya.

(WIL)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id