Armenia dan Azerbaijan Kembali Bertempur, 23 Orang Tewas

    Willy Haryono - 28 September 2020 05:56 WIB
    Armenia dan Azerbaijan Kembali Bertempur, 23 Orang Tewas
    Foto dari video yang dirilis Kemenhan Armenia pada 27 September 2020 memperlihatkan pertempuran di Nagorno-Karabakh. (AFP)
    Yerevan: Konflik bersenjata antara Armenia dan Azerbaijan kembali meletus pada Minggu 27 September, yang berujung pada tewasnya 23 orang. Pertempuran memperebutkan wilayah Nagorno-Karabakh ini melibatkan helikopter, pesawat tanpa awak (drone), dan juga tank.

    Nagorno-Karabakh diakui komunitas internasional sebagai bagian dari Azerbaijan, namun dikuasai grup etnis Armenia. Puluhan ribu orang tewas dalam konflik memperebutkan wilayah tersebut, yang sudah dimulai sejak awal 1990-an.

    Kementerian Pertahanan Armenia mengatakan, serangan terhadap permukiman sipil di Nagorno-Karabakh, termasuk ibu kota Stepanakert, terjadi pada Minggu pukul 08.10 waktu setempat.

    Seorang perempuan dan anak kecil dikabarkan tewas dalam serangan. Otoritas separatis di Nagorno-Karabakh mengatakan, 16 anggota mereka juga tewas dalam serangan, dengan 100 lainnya terluka.

    Armenia mengaku telah menembak jatuh dua helikopter dan tiga drone, serta menghancurkan tiga tank.

    "Bersiaplah untuk melindungi tanah air kita," ujar Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan, dilansir dari laman BBC, Senin 28 September 2020.

    Ia memperingatkan ancaman terjadinya "perang berskala besar" di kawasan, dan mendorong komunitas internasional untuk bersatu demi mencegah adanya ketegangan lebih lanjut.

    Sementara dari Azerbaijan, Presiden Ilham Aliyev mengaku yakin dapat menguasai kembali Nagorno-Karabakh. Usai meletusnya pertempuran terbaru, status darurat militer diterapkan di beberapa wilayah Azerbaijan, Armenia, dan juga Nagorno-Karabakh.

    Ketegangan kedua negara di Pegunungan Kaukasus belum juga terselesaikan selama lebih dari tiga dekade. Pertempuran antar Armenia dan Azerbaijan kerap terjadi dari waktu ke waktu.

    Juli lalu, pertempuran kedua negara di wilayah perbatasan menewaskan sedikitnya 16 orang. Pertempuran itu memicu aksi protes massa di Baku, yang mendorong pemerintah Azerbaijan untuk merebut kembali Nagorno-Karabakh.

    Meningkatnya ketegangan dapat mengguncang pasar Kaukasus Selatan, yang merupakan koridor bagi pipa penyalur minyak dan gas alam dari Laut Kaspia ke pasar global.

    Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mendukung Azerbaijan dalam krisis terbaru ini. Sementara Rusia, yang dipandang sebagai mitra Armenia, menyerukan gencatan senjata dan dialog untuk menstabilkan situasi.

    (WIL)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id