Uji Klinis Vaksin Johnson & Johnson Dihentikan Sementara

    Willy Haryono - 13 Oktober 2020 11:23 WIB
    Uji Klinis Vaksin Johnson & Johnson Dihentikan Sementara
    Ilustrasi vaksin eksperimental covid-19. (AFP)
    New Jersey: Uji klinis vaksin virus korona (covid-19) yang dikembangkan Johnson & Johnson (J&J), perusahaan obat-obatan asal Amerika Serikat, dihentikan sementara karena salah satu relawannya jatuh sakit. Penghentian dilakukan saat uji klinis vaksin tersebut sudah memasuki fase 3.

    "Kami menghentikan sementara uji klinis semua kandidat vaksin covid-19, termasuk yang sudah masuk fase tiga ENSEMBLE, karena adanya penyakit yang belum dapat dijelaskan di tubuh salah satu peserta," ujar pernyataan resmi J&J, dikutip dari laman AFP pada Selasa, 13 Oktober 2020.

    Lewat penghentian ini, Johnson & Johnson menutup sementara pendaftaran relawan uji klinis vaksin covid-19.

    J&J mengatakan bahwa efek samping serius (SAE), seperti kecelakaan atau penyakit, merupakan "bagian dari uji klinis apapun, terutama yang berskala besar." Lewat penghentian ini, J&J akan menentukan apakah SAE yang muncul memang terkait dari vaksin covid-19 yang sedang diuji.

    Perekrutan relawan uji klinis vaksin covid-19 J&J sudah dibuka sejak akhir September, dengan tujuan menerima hingga 60 ribu orang di lebih dari 200 situs di AS dan seluruh dunia.

    Negara lain selain AS yang juga menjalani uji klinis vaksin covid-19 buatan J&J adalah Argentina, Brasil, Chile, Kolombia, Meksiko, Peru, dan Afrika Selatan.

    Di level global, J&J merupakan perusahaan kesepuluh yang melakukan uji klinis fase tiga vaksin covid-19. Sementara di AS, J&J adalah perusahaan yang keempat.

    Pemerintah federal AS telah mengucurkan dana sekitar USD1,45 miliar untuk pendanaan vaksin covid-19 di bawah operasi bertajuk Operation Warp Speed.

    Vaksin covid-19 buatan J&J dibuat dari dosis tunggal adenovirus yang menyebabkan flu di tubuh manusia. J&J memodifikasi adenovirus agar tidak dapat mereplikasi diri di dalam tubuh. Modifikasi adenovirus ini digabungkan dengan bagian dari covid-19 bernama spike protein, yang digunakan virus tersebut untuk menginvasi sel manusia.

    Teknologi pengembangan vaksin covid-19 di J&J sama dengan yang digunakan saat mengembangkan vaksin Ebola. Vaksin Ebola tersebut sudah mendapat persetujuan pemasaran dari Komisi Eropa pada Juli lalu.

    Seperti uji klinis fase tiga lainnya, tujuan utama dari pengembangan di J&J adalah untuk menentukan apakah vaksin eksperimental ini dapat mencegah gejala covid-19.

    September lalu, uji klinis vaksin covid-19 buatan AstraZeneca dan Oxford University dihentikan sementara usai seorang relawan jatuh sakit.

    (WIL)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id