Dokter di Brasil Ikut jadi Relawan Uji Vaksin Covid-19

    Fajar Nugraha - 30 Juli 2020 12:33 WIB
    Dokter di Brasil Ikut jadi Relawan Uji Vaksin Covid-19
    Warga di Brasil menerima suntikan vaksin covid-19 potensial. Foto: AFP
    Sao Paulo: Tenaga kesehatan Brasil berada di garis depan melawan pandemi virus korona. Tidak hanya merawat pasien, tetapi ada dari mereka secara sukarela menguji beberapa vaksin eksperimental yang paling menjanjikan.

    Brasil adalah negara dengan jumlah infeksi dan kematian tertinggi kedua dalam pandemi ini, setelah Amerika Serikat. Virus covid-19 masih menyebar dengan cepat di Negeri Samba.

    Itu adalah berita buruk dalam segala hal kecuali satu: statusnya membuat negara Amerika Selatan itu tempat pengujian yang ideal untuk vaksin potensial melawan virus.

    Baca: Sinopharm dan Brasil Uji Vaksin Covid-19 Keempat.

    Tugas kelinci percobaan jatuh ke staf medis yang bekerja di fasilitas yang merawat pasien yang terinfeksi virus, karena mereka yang paling mungkin melakukan kontak dengan pasien. Ini memungkinkan para peneliti untuk melakukan percobaan terkontrol untuk melihat seberapa baik kerja vaksin potensial itu.

    "Saya ingin berkontribusi, dan inilah kontribusi saya, melalui sains," kata dokter anak, Monica Levi, seperti dikutip AFP, Kamis 30 Juli 2020.

    Levi adalah salah satu dari 5.000 sukarelawan di Brasil yang membantu menguji vaksin yang paling menjanjikan sejauh ini. Vaksin dikembangkan oleh Universitas Oxford dan perusahaan farmasi AstraZeneca.

    Dokter berusia 53 tahun itu bekerja di Klinik Khusus untuk Penyakit Menular dan Imunisasi Parasit (Cedipi) di Sao Paulo. Saat ini Sao Paulo menjadi pusat penyebaran wabah di Brasil, di mana lebih dari 2,5 juta orang telah terinfeksi sejauh ini, dengan lebih dari 90.000 kematian.

    "Vaksinasi adalah alasan saya. Jadi saya harus menindaklanjuti keyakinan saya," katanya kepada AFP.

    Pekan lalu, Brasil juga menjadi negara pertama yang melakukan uji coba fase tiga vaksin yang dikembangkan oleh Tiongkok, CoronaVac. Vaksin dikembangkan oleh perusahaan farmasi Sinovac Biotech.

    Uji klinis fase tiga melibatkan pengujian skala besar pada manusia, langkah terakhir sebelum vaksin mencari persetujuan regulator. Pekerja medis memainkan peran utama dalam pengujian vaksin itu juga.

    "Mereka memilih perawat kesehatan profesional karena kita senantiasa berisiko," tutur Levi.

    Relawan harus berusia antara 18 dan 55 tahun, bekerja dalam peran perawatan pasien dan tidak memiliki kondisi medis yang mendasarinya.

    Setengah dari sukarelawan dalam uji coba Oxford menerima vaksin dan setengah lainnya menggunakan plasebo. Tetapi mereka hanya akan tahu tahun dari sekarang.

    Levi mendapatkan suntikan vaksi pada 21 Juli. Saat itu dia merasakan efek berupa sakit kepala dan menggigil pada hari pertama.

    ”Tetapi saya bahkan tidak tahu apakah mereka memberi saya vaksin atau plasebo," tambahnya.

    Sementara dia menunggu hasil, dia pergi ke pemeriksaan rutin di mana para peneliti memantau kesehatannya. Dirinya berharap vaksin itu adalah jalan keluar dari pandemi yang dinantikan seluruh dunia.

    Para ilmuwan di seluruh dunia berlomba untuk mengembangkan dan menguji vaksin untuk virus tersebut. Ada lebih dari 150 proyek sejauh ini.

    Tetapi tidak ada jaminan dalam perlombaan berisiko tinggi. Brasil memiliki kesepakatan untuk membuat hingga 100 juta dosis vaksin Oxford jika terbukti efektif.

    “Tetapi jika tidak, semuanya akan menjadi sampah,” pungkas Levi.


    (FJR)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id