Autopsi Independen Sebut Kematian George Floyd karena Dibunuh

    Fajar Nugraha - 02 Juni 2020 06:57 WIB
    Autopsi Independen Sebut Kematian George Floyd karena Dibunuh
    Polisi AS yang membunuh warga kulit hitam, George Floyd. Foto: AFP
    Minneapolis: Autopsi independen dilakukan terhadap George Floyd oleh dua dokter ahli. Pria kulit hitam itu meninggal saat ditahan oleh polisi kulit putih pada pekan lalu dan memicu protes di seluruh negeri.

    Kedua dokter yang melakukan autopsi pada Senin 1 Juni itu mengatakan bahwa Floyd meninggal karena sesak napas dan bahwa kematiannya adalah pembunuhan.

    Para dokter juga mengatakan Floyd tidak memiliki kondisi medis yang mendasari yang berkontribusi pada kematiannya. Pria berusia 46 tahun itu kemungkinan meninggal sebelum dibawa ke dalam ambulans.

    Itu bertentangan dengan temuan awal otopsi resmi oleh Pemeriksa Medis Kabupaten Hennepin, yang dikutip dalam dokumen tuntutan pengadilan terhadap petugas polisi yang mendorong lututnya ke leher Floyd selama beberapa menit.

    Temuan awal itu mengatakan tidak ada bukti pencekikan traumatis. Ia juga mengatakan penyakit arteri koroner dan hipertensi juga kemungkinan berkontribusi pada kematian Floyd. Laporan otopsi lengkap kabupaten belum dirilis. Kemudian pada hari Senin, pemeriksa medis menyatakan kematian Floyd adalah pembunuhan.

    "Buktinya konsisten dengan asfiksia mekanik sebagai penyebab kematian dan pembunuhan sebagai cara kematian," kata Dr Allecia Wilson dari University of Michigan, salah satu dari dua dokter forensik yang melakukan otopsi independen, seperti dikutip dari Channel News Asia, Selasa 2 Juni 2020.


    Meninggal dalam hitungan menit


    Video warga yang melintas menunjukkan Floyd memohon untuk nyawanya dan mengatakan berulang kali bahwa dia tidak bisa bernafas ketika seorang polisi Derek Chauvin menekan lututnya dengan kuat menempel di leher Floyd selama hampir sembilan menit. Dua petugas lainnya menekan dengan lutut ke punggung Floyd.

    Chauvin, yang berkulit putih dan telah dipecat dari departemen kepolisian Minneapolis, didakwa dengan tuduhan pembunuhan tingkat tiga dan pembunuhan pekan lalu.

    Tetapi Dr Michael Baden, yang juga mengambil bagian dalam otopsi independen atas perintah keluarga Floyd, mengatakan bahwa tindakan dua petugas lainnya juga menyebabkan Floyd berhenti bernapas.

    "Kita dapat melihat setelah kurang dari empat menit bahwa Floyd tidak bergerak, tidak bernyawa," kata Baden, seraya menambahkan dia tidak menemukan kondisi kesehatan mendasar di Floyd yang menyebabkan kematiannya.

    Baden telah menangani beberapa kasus terkenal, termasuk kematian Eric Garner 2014, seorang pria kulit hitam yang meninggal setelah dicekik oleh polisi di New York City.

    Baden menepis argumen bahwa jika Floyd bisa bicara maka dia bisa bernafas.

    "Banyak polisi mendapat kesan bahwa jika Anda dapat berbicara, itu berarti Anda bernafas. Itu tidak benar. Aku berbicara sekarang di depanmu dan tidak mengambil nafas,” tegas Baden.

    Dakwaan lebih banyak


    Antonio Romanucci, salah satu pengacara yang mewakili keluarga Floyd, mengatakan bahwa keempat petugas di tempat kejadian harus menghadapi dakwaan, bukan hanya Chauvin.

    "Bukan saja lutut di leher George menjadi penyebab kematiannya, tetapi juga berat kedua petugas polisi di punggungnya, yang tidak hanya mencegah aliran darah ke otaknya, tetapi udara mengalir ke paru-parunya. Itu membuat semua petugas di TKP bertanggung jawab secara pidana,” Kata Romanucci.

    Ben Crump, ketua pengacara untuk keluarga Floyd, mengatakan otopsi independen dan bukti video memperjelas bahwa Floyd sudah meninggal ketika dia masih berbaring di jalan dengan polisi di atasnya.

    "Ambulans itu adalah mobil jenazahnya," katanya.

    Crump mengatakan keluarga Floyd ingin melihat dakwaan diajukan terhadap keempat petugas yang berada di tempat kejadian - dan bagi Chauvin, yang mencekik leher Floyd, akan menghadapi dakwaan pembunuhan tingkat pertama.

    Tetapi mereka juga mencari diakhirinya protes keras yang telah melanda Amerika Serikat untuk berakhir.

    "George meninggal karena dia membutuhkan napas, menghirup udara. Saya mohon Anda semua untuk bergabung dengan keluarganya dalam mengambil napas. Mengambil napas untuk keadilan, mengambil napas untuk perdamaian,” pungkas Crump.

    (FJR)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id